243 total views, 243 views today
Samarinda, wartaikn.com – Di hamparan perairan biru yang membentang luas di utara Kalimantan Timur, tersembunyi sebuah warisan alam yang tak ternilai harganya.
Bumi Batiwakal alias Kabupaten Berau, dengan gugusan pulau indah seperti Derawan, Sangalaki, dan Maratua, berdiri sebagai salah satu jantung kehidupan laut di kawasan Segitiga Terumbu Karang, pusat keanekaragaman hayati laut dunia.
Di sinilah, penyu melintasi jarak ribuan kilometer, mengikuti arus dan bintang, untuk kembali ke tempat mereka dilahirkan guna meneruskan keturunannya.
Perjalanan panjang yang telah mereka lalui selama jutaan tahun ini tidak selalu mudah; ancaman perubahan iklim, kerusakan habitat, dan gangguan aktivitas manusia pernah mengancam masa depan mereka.
Kini, dengan sinergi teknologi canggih, ilmu pengetahuan, dan kepedulian bersama, langkah-langkah nyata sedang dijalankan untuk memastikan sang penjelajah samudra ini tetap memiliki tempat hidup yang layak.
Upaya penyelamatan dan pelestarian ini dipimpin oleh Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Pontianak di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
KKP bekerja sama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur, serta kelompok masyarakat lokal yang telah lama menjaga dan mengenal wilayah ini.
Kegiatan ini mencakup seluruh aspek perlindungan, mulai dari pemantauan populasi, pemetaan zona penting, hingga membangun kesadaran agar konservasi tumbuh menjadi gaya hidup bersama.
Salah satu terobosan paling mengubah cara pandang dan kerja pelestarian adalah penggunaan pesawat nirawak atau drone.
Pesawat Nirawak
Jika dahulu pemantauan harus dilakukan dengan kapal yang memakan waktu berjam-jam, menjangkau lokasi terbatas, serta berisiko mengganggu ketenangan satwa, kini teknologi hadir membuka jalan baru yang lebih cerdas, cepat, dan ramah lingkungan.
“Pemanfaatan pesawat nirawak membantu menghasilkan data yang lebih akurat dan efisien untuk mendukung pengelolaan kawasan konservasi,” ujar Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak-KKP, Syarif Iwan Taruna Alkadrie.
Dengan bantuan teknologi ini, tim peneliti dapat terbang melintasi wilayah yang sangat luas, menyusuri perairan dangkal, hamparan padang lamun, hingga labirin terumbu karang yang menjadi tempat mencari makan dan berlindung penyu.
Citra yang dihasilkan memiliki ketelitian luar biasa, dengan resolusi antara 1,5 hingga 5 sentimeter, cukup jelas untuk membedakan wujud penyu dari batu, karang, atau benda lain di dasar laut tanpa harus mendekat secara fisik.
Hasilnya sungguh menggembirakan: dalam satu rangkaian survei udara, tim berhasil memetakan 12 lokasi penting dan mengidentifikasi keberadaan 913 individu penyu yang hidup dan beraktivitas bebas di dalam Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KKP3K KDPS).
“Kita kini bisa melihat kondisi wilayah yang sulit dijangkau sekalipun, mendapatkan gambaran menyeluruh tentang sebaran dan keberadaan mereka. Data ini menjadi dasar ilmiah yang kuat agar setiap kebijakan dan tindakan pelestarian tidak dilakukan secara asal, melainkan tepat sasaran dan berdampak nyata,” tambah Syarif Iwan.
Pelibatan Masyarakat
Namun teknologi saja tidak cukup; ia harus berjalan seiring dengan keterlibatan hati dan tangan manusia. Hal ini ditekankan oleh Manajer Senior Perlindungan Laut YKAN, Yusuf Fajariyanto.
Baginya, kunci keberhasilan konservasi terletak pada masyarakat yang tinggal dan mencari nafkah di tepi laut.
“Penyu bukan hanya milik negara atau lembaga lingkungan; mereka adalah tetangga sehari-hari warga pesisir. Jika kita ingin melindungi masa depan mereka, maka kita harus melibatkan mereka yang paling dekat dan paling mengenal seluk-beluk alam ini,” ujarnya.
Pernyataan itu diperkuat oleh hasil survei mendalam yang dilakukan tim, yang mencakup wawancara dengan 75 nelayan dari berbagai wilayah seperti Balikukup, Derawan, Maratua, Teluk Sulaiman, hingga Biduk-Biduk.
Temuannya sangat membesarkan hati. 98 persen responden sudah memahami bahwa menangkap, membunuh, atau mengambil telur penyu adalah tindakan yang melanggar hukum dan merusak keseimbangan alam.
Sebagian besar juga mengaku masih sering menjumpai penyu—terutama penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik—berenang bebas atau naik ke pantai sepanjang tahun.
Bahkan banyak di antara mereka yang menyatakan melihat perubahan positif, populasi penyu terasa lebih banyak dan lebih sering terlihat dibandingkan sepuluh hingga dua puluh tahun silam.
Kondisi ini menjadi bukti nyata bahwa perlindungan hukum, pengawasan, dan edukasi yang terus digalakkan mulai membuahkan hasil yang nyata.
Habitat Peneluran
Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, menjelaskan bahwa upaya ini tidak hanya melihat keberadaan penyu dewasa, tetapi juga memeriksa kondisi tempat mereka memulai hidup.
Survei pihaknya menjangkau lokasi-lokasi krusial seperti Pulau Mataha, Pulau Bilang-bilangan, Pulau Sangalaki, hingga Teluk Sulaiman.
Hasilnya, kondisi habitat peneluran penyu di pulau-pulau kecil ini masuk dalam kategori hijau—artinya aman dan sangat layak untuk melahirkan generasi baru,” ungkapnya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kaltim, Irhan Hukmaidy, memberikan rincian lebih lanjut mengenai kualitas lingkungan tersebut.
Dari total 27 titik pengamatan yang diperiksa, sebanyak 26 titik dinyatakan sangat sesuai sebagai tempat bertelur.
Pantai-pantai itu memiliki butiran pasir yang ideal, kemiringan tanah yang tidak terlalu curam, ditumbuhi vegetasi alami yang melindungi sarang dari terik matahari, serta masih minim gangguan aktivitas manusia.
“Ini adalah modal besar yang harus kita jaga. Berau bukan sekadar wilayah biasa; ia merupakan habitat penyu hijau terbesar di Indonesia dan menjadi jalur migrasi penting bagi spesies laut dari berbagai penjuru dunia. Kondisi yang baik ini harus kita pelihara agar tidak hilang ditelan waktu,” tegas Irhan.
Keseimbangan Ekosistem
Penyu memegang peran yang sangat vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Sebagai pemakan rumput laut dan lamun, mereka membantu menjaga kesehatan padang lamun yang menjadi tempat hidup ikan-ikan kecil dan penyerap karbon terbesar di dunia.
Di sisi lain, sisa cangkang dan telur yang menetas menjadi sumber hara bagi tumbuhan pantai, sehingga menjaga kestabilan pasir dan mencegah abrasi. Keberadaan penyu yang sehat adalah tanda bahwa laut di sekitarnya pun sehat, yang pada akhirnya akan menjamin keberlangsungan hidup nelayan dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Kegiatan ini juga didukung oleh Program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (SOMACORE), yang mendorong pengelolaan kawasan konservasi berbasis ilmu pengetahuan dan partisipasi aktif.
Artinya, masa depan penyu tidak hanya ditentukan oleh aturan di atas kertas, melainkan oleh kesadaran setiap orang yang menginjakkan kaki di wilayah ini, mulai dari anak-anak yang belajar mengenal alam, wisatawan yang menjaga kebersihan pantai, hingga pengusaha yang mengelola pariwisata dengan prinsip keberlanjutan.
Kini, di tengah lembutnya deburan ombak dan teriknya sinar matahari yang menyentuh permukaan air, penyu kembali berenang bebas, melanjutkan perjalanan panjang mereka yang telah berlangsung jutaan tahun.
Di atas mereka, drone terbang dengan tenang memantau, masyarakat berdiri siap menjaga. Sementara kebijakan dan ilmu pengetahuan menjadi payung perlindungan yang kokoh.
Upaya penyelamatan penyu di Berau mengajarkan kita satu hal penting, menjaga alam bukanlah beban, melainkan sebuah tanggung jawab dan kebutuhan bersama. Setiap sarang yang aman, setiap individu yang selamat, adalah janji bahwa keseimbangan alam masih terjaga.
Di sini, di perairan yang kaya dan indah ini, kita sedang menulis kisah harapan bahwa di antara laju pembangunan dan kebutuhan hidup manusia, kita masih bisa menyisakan ruang bagi sang penjaga laut untuk terus melanjutkan jejak perjalanan mereka di atas ombak, demi masa depan laut yang lestari dan sejahtera.