Sempat Gagal Panen, Petambak Sepatin Kini Terapkan Silvofishery

Ketua Kelompok Masyarakat (Pokmas) Gemilang, Asharuddin, menunjukkan hasil budidaya tambak silvofishery yang ditanami mangrove di Desa Sepatin. (wartaikn.com/Ary)
Ketua Pokmas Gemilang, Asharuddin. (wartaikn.com/Ary)

 246 total views,  246 views today

Kutai Kartanegara, wartaikn.com – Kisah petambak di Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, menjadi bukti nyata dalam memanfaatkan program rehabilitasi mangrove M4CR.

Ketua Kelompok Masyarakat (Pokmas) Gemilang Desa Sepatin, Asharuddin, membagikan pengalamannya saat ditemui awak media di tambaknya, Jumat (31/07/2026).

Asharuddin bercerita, tambak seluas total 20 hektare miliknya sempat mengalami penurunan hasil drastis usai dibersihkan total dari vegetasi mangrove puluhan tahun lalu.
Produksi yang semula melimpah pada era 1990-an, kini tersisa jauh dari harapan sebelum program rehabilitasi hadir.

“Di tahun 90-an itu hasilnya lumayan, kalau ditotal dalam 3 bulan bisa mencapai 1 ton lebih. Sekarang paling pikul-pikulan saja atau 100-200 kilogram,” ujar Asharuddin.

Ia menuturkan, ketimpangan hasil panen itu mendorongnya bergabung dalam program rehabilitasi mangrove M4CR sekitar setahun terakhir. Melalui penanaman mangrove silvofishery, tambak seluas 11 hektare dan 9 hektare miliknya kini mulai ditanami mangrove sebagai upaya memulihkan ekosistem sekaligus meningkatkan produktivitas.

“Kalau bibit saya nanti berhasil, ini karena mangrove. Saya coba dulu empat bulan, kalau berhasil nanti saya promosikan ke teman-teman untuk ikut,” kata Asharuddin.

Ia menjelaskan, total 800.000 bibit mangrove telah disiapkan untuk penanaman di kawasan tambaknya, sementara tambaknya kini dikelola dengan sistem tambak campuran udang windu dan ikan bandeng, dengan populasi kepiting yang masuk secara alami. Setiap petak tambak dikelola oleh satu pekerja bersama keluarganya.

Asharuddin optimistis, kehadiran mangrove akan membantu menyerap kandungan racun dalam tanah yang selama ini menghambat pertumbuhan biota tambak. Ia berharap, uji coba penanaman yang tengah berjalan dapat menjadi contoh bagi petambak lain di sekitar Desa Sepatin.

“Sekarang kok kurang hasilnya, berarti coba deh tanam mangrove. Kalau saya berhasil, nanti saya promosikan sama teman-teman supaya ikut,” ujarnya.

Kisah Asharuddin merupakan salah satu dari puluhan kelompok tani hutan yang tergabung dalam program rehabilitasi mangrove di Desa Sepatin sejak 2024. Program ini menjadi bagian dari upaya Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) dalam memadukan pemulihan lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi petambak pesisir.

Rangkaian kunjungan media ke Desa Sepatin turut menjadi ajang edukasi bagi awak media untuk melihat langsung praktik baik pemulihan ekosistem mangrove berbasis pemberdayaan masyarakat yang dijalankan program M4CR di Kalimantan Timur. [Ary]

wartaikn.com @ 2023