302 total views, 302 views today
Catatan ringan : ASE
wartaikn.com – Lupakan sejenak hiruk pikuk keracunan MBG. Lupakan sejenak lokasi pembangunan KDMP di atas bukit atau di kuburan. Lupakan sejenak urusan efisiensi anggaran yang berakibat kepala daerah jadi pusing 7 keliling.
Lalu, bagi kami yang menekuni dunia kampus dan akademisi, soal BRICS ini bisa menjadi materi untuk beberapa kali pertemuan mata kuliah Perdagangan Internasional atau Perekonomian Indonesia
6 Januari 2025. Tanggal itu jadi catatan sejarah ekonomi kita. Brazil selaku ketua BRICS, resmi mengumumkan: Indonesia diterima jadi anggota penuh BRICS.
BRICS yang merupakan singkatan dari Brazil, Rusia, India, China, Afrika Selatan ini merupakan kumpulan negara berkembang dengan ekonomi yang besar, berfungsi menjadi lokus kerja sama ekonomi dan geopolitik. Kini anggota BRICS sudah 10 negara.
Blok ini menguasai lebih dari 40% populasi dunia dan hampir 1/3 ekonomi dunia.
Pertanyaannya: terus, buat dompet kita, buat pabrik kita, buat anak-cucu kita… apa pengaruhnya?
Mari kita bedah pelan-pelan, yuk seruput kopi panas. Biar seru, lengkapi dengan pisang rebus, biar sakit maagh ngga kumat..!
Selama ini pasar ekspor kita itu-itu saja: AS, Eropa, Jepang, ASEAN.
Dengan masuk BRICS, pintunya nambah: Brazil, Rusia, India, Afrika Selatan.
Data mulai bicara:
BPS mencatat ekspor Indonesia ke Afrika 2024 sudah 2,4% dari total ekspor nasional. Impor dari Brazil di 2025 naik 17,95%. Ekspor nasional ke Brazil juga naik 7,71%.
Artinya apa? Hubungan dagang mulai menguat.
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto bilang: “Akses perdagangan dan investasi semakin terbuka lagi.”
Intinya, produk UMKM, sawit, nikel, furnitur Indonesia punya etalase baru.
Tapi ada catatan ilmiahnya: 33,9% ekspor nonmigas kita memang sudah ke BRICS. Tapi tahun 2024 Indonesia juga defisit 1,63 miliar USD.
Jadi PR-nya bukan hanya jual, tapi juga pastikan Indonesia tidak kebanjiran impor.
Nah Ini bagian yang paling ditunggu.!
BRICS punya bank sendiri: New Development Bank/NDB.
Fungsinya apa? Mendanai proyek infrastruktur, energi, dan pembangunan. Termasuk IKN. Selama ini Indonesia sering “ngutang” ke IMF atau WB, kedua lembaga ini sebenarnya rada-rada ke rentenir banget deh.
Mencekik dan sering suka nyetir wilayah politik negara, kadang memberikan resep yang malah menjerumuskan negara, ingat era reformasi 97/98, bagaimana Michael Comdessus memberikan resep IMF yang malah mencelakakan negara lebih dalam.
Kelebihannya:
NDB memberi pinjaman tanpa conditionality seketat IMF atau Bank Dunia. Lebih fleksibel.
Secara teori ekonomi pembangunan, ini penting, karena infrastruktur dan energi adalah “urat nadi” pertumbuhan. Kalau pembiayaan lancar, proyek jalan, lapangan kerja kebuka, roda ekonomi pasti muter.
Kemudian yang juga seru adalah Salah satu agenda besar BRICS adalah “de-dolarisasi”
Bahasa sederhananya: jual beli antar negara BRICS pakai mata uang lokal. Rupiah dengan Yuan, Rupiah dengan Rupee.
Kenapa penting? Karena kalau kita tidak terlalu tergantung dolar, maka saat dolar naik, ekonomi kita tidak langsung oleng.
Para ekonom juga menyebut ini bisa bantu tekan inflasi. Karena pasokan bahan baku dari BRICS yang lebih stabil, harga di dalam negeri bisa lebih terkendali.
Pascapengumuman keanggotaan, pasar juga sempat merespon positif. Rupiah sempat menguat. Itu tanda investor optimis.
Tapi para ekonom ingatkan: ini bukan efek tunggal BRICS. Ini kombinasi banyak faktor.
Tapi… ada PR besar
Jujur saja, tidak semua manis.
Pertama, saingannya berat.
Produk Indonesia banyak yang mirip dengan produk India, China, Brazil. Sama-sama negara “selatan”. Jadi daya saing harus naik. Kalau tidak, Indonesia yang kalah.
Kedua, soal geopolitik.
Gabung BRICS bisa dibaca Barat sebagai “pindah blok”. Ini bisa memengaruhi hubungan dagang kita dengan AS dan Eropa. Jadi diplomasi kita harus lincah. Bebas aktif.
Ketiga, efeknya tidak instan.
Penelitian menunjukkan variabel “keanggotaan BRICS” belum langsung mendongkrak PDB secara signifikan. Manfaat NDB, investasi, dan perjanjian dagang itu sifatnya jangka menengah-panjang.
Jadi, apa dong kesimpulannya?
BRICS bukan obat ajaib. BRICS adalah peluang strategis.
Secara ilmiah, keanggotaan ini memberi Indonesia tiga hal:
1. Perluasan Pasar: Akses ke lima benua sekaligus melalui jaringan BRICS.
2. Sumber Pembiayaan Alternatif: Lewat NDB untuk proyek strategis nasional.
3. Penguatan Posisi: Suara Indonesia di forum Global South jadi lebih kuat.
Tapi kunci ada di Indonesia.
Pemerintah harus pintar memilih proyek yang didanai NDB.
Dunia usaha harus naik kelas, inovasi, dan jaga kualitas agar bisa menang bersaing.
BRICS sudah buka pintu. Sekarang giliran Indonesia yang jalan masuk, membawa dagangan terbaik, dan duduk setara di meja itu.
Karena pada akhirnya, kemandirian ekonomi tidak datang dari bergabung dengan blok manapun.
Tapi dari seberapa kuat pelaku di dalam negeri. (ASE)