320 total views, 320 views today
Kutai Kartanegara, wartaikn.com – Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, menjadi salah satu lokasi prioritas program rehabilitasi mangrove Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) di Kalimantan Timur (Kaltim).
Sekretaris Desa Sepatin, Suardi menyampaikan, desa yang berbatasan langsung dengan Selat Makassar ini memiliki luas wilayah mencapai 131 kilometer persegi atau sekitar 58.000 hektare, menjadikannya salah satu desa terluas di Kaltim.
Desa ini juga tercatat sebagai salah satu permukiman tertua di pesisir Kaltim, dengan jejak sejarah yang telah diakui sejak tahun 1941.
“Desa Kepulauan ini luasnya mungkin lebih luas dari kabupaten yang ada di tiga kabupaten Sulawesi Selatan,” ujar Suardi di hadapan rombongan Media Gathering M4CR dalam rangkaian Mangrove Fest 2026, Jumat (31/07/2026).
Ia menjelaskan, Desa Sepatin dikenal kaya akan sumber daya alam pesisir, khususnya tiga komoditas utama yakni kepiting, udang, dan ikan. Desa ini menjadi salah satu target utama program M4CR sejak 2024, dengan total sekitar 33 kelompok masyarakat yang telah terlibat dalam program rehabilitasi mangrove hingga 2026.
Sekdes Sepatin, Suardi, menambahkan, keberadaan program M4CR turut memberi manfaat langsung bagi warga melalui pemberdayaan ekonomi, termasuk pelatihan pembuatan produk olahan berbasis hasil pesisir.
Ia berharap, program rehabilitasi ini dapat mendorong Desa Sepatin berkembang menjadi destinasi wisata mangrove unggulan di Kalimantan Timur.
“Mudah-mudahan ke depannya Sepatin menjadi wisata mangrove yang ada di Kalimantan Timur ini,” kata Suardi.
Ia turut menyampaikan apresiasi atas kehadiran sejumlah perusahaan yang memberikan dukungan corporate social responsibility (CSR) bagi program pemberdayaan masyarakat pesisir Desa Sepatin, sebagai bentuk kepedulian terhadap potensi sumber daya alam yang dimiliki desa tersebut.
Manager M4CR Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Kaltim, Asman Aziz, yang turut hadir dalam kunjungan tersebut menyampaikan, program rehabilitasi di Desa Sepatin telah menunjukkan hasil yang menggembirakan melalui pendekatan silvofishery, yakni pola tanam mangrove yang dipadukan dengan aktivitas budidaya tambak [Ary]