344 total views, 344 views today
Samarinda, wartaikn.com – Angin laut berhembus membawa aroma garam khas, menyapa rimbunnya dedaunan bakau yang berdiri tegak menjaga garis pantai Kalimantan Timur.
Di balik rimbunnya itu tersimpan kisah panjang, tentang kehilangan yang dialami, tentang perjuangan memulihkan, serta tentang harapan yang kini tumbuh kembali dari sela-sela akar yang menjalar kuat.
Kegiatan Media Gathering Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) yang digelar di Samarinda pada Kamis, 30 Juli 2026 menjadi gerbang pembuka perjalanan menyusuri
kisah itu, sekaligus penanda babak baru kolaborasi lintas pihak untuk menjaga salah satu ekosistem paling vital di muka bumi ini.
Kegiatan yang berlangsung dari Jumat, 30 Juli hingga Minggu, 2 Agustus 2026 dalam rangkaian Festival Mangrove Nasional bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan undangan untuk merasakan denyut nadi pesisir yang kini kembali berdetak lebih kuat.
Antara yang Hilang dan Masih Terjaga
Tiga puluh tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk mengubah wajah benteng alami pesisir. Berdasarkan pemaparan Plt. Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Mahakam Berau Indi Hendraswari, dari luas awal ekosistem mangrove di Kalimantan Timur, tersisa 63,4 persen atau 240.929 hektare yang masih berdiri tegak hingga saat ini.
Artinya, dalam kurun waktu 1994 hingga 2024, sebanyak 36,6 persen atau sekitar 102.040 hektare telah berubah wajah, tergerus oleh tangan-tangan manusia yang belum menyadari sepenuhnya betapa vitalnya keberadaan pohon-pohon itu.
Angka itu bukan sekadar catatan kerugian, itu adalah peta jalan yang menunjukkan arah perbaikan. Sebagian besar kawasan yang masih terjaga yakni 193.380 hektare, memiliki tutupan yang lebat dan sehat, sementara 33.985 hektare berstatus tutupan sedang, dan 13.563 hektare tutupan jarang yang membutuhkan perhatian lebih.
Di samping itu, terbentang peluang luas seluas 111.808 hektare kawasan yang kondusif untuk dipulihkan kembali, sebuah ladang harapan yang menanti sentuhan kasih sayang manusia.
Akar penyusutannya pun telah terpetakan dengan jelas, sekitar 51 persen terjadi akibat alih fungsi menjadi tambak, 40 persen berupa lahan tambak yang kemudian terbengkalai dan tak terurus, dan sebagian kecil akibat perubahan menjadi perkebunan lain.
Jika digabungkan, dampak aktivitas tambak mencapai 91 persen dari total penyusutan. Fakta ini sekaligus menjadi kompas yang tegas bahwa pemulihan harus dimulai dari mengubah cara mengelola lahan pesisir. Tujuannya jelas, agar manusia dan alam dapat hidup berdampingan tanpa saling mengorbankan.
Menyadari pentingnya hal itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur telah merajut kerangka perlindungan yang kokoh.
Melalui pembentukan Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) lewat Peraturan Gubernur Nomor 9 Tahun 2023, serta sejumlah payung hukum seperti Rencana Tata Ruang Wilayah, Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, hingga pengarusutamaan gender, diletakkan landasan agar akar bakau tak lagi mudah dicabut sembarangan demi keuntungan sesaat.

Merawat Tanah Luka
Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) hadir sebagai jawaban nyata atas panggilan pemulihan. Menyasar empat provinsi yakni Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara, program ini membuktikan bahwa tekad bersama mampu mengubah wajah pesisir.
Sejak digulirkan pada tahun 2024, perjalanannya telah menorehkan angka yang menggembirakan, 4.445 hektare berhasil dipulihkan pada tahun pertama, disusul 499 hektare pada 2025, dan sepanjang tahun 2026 ini telah tercapai rehabilitasi seluas 1.176 hektare.
Menjelang akhir tahun, target keseluruhan ditetapkan mencapai 6.486 hektare, sebuah janji besar yang dijalankan dengan langkah nyata, tidak sekadar retorika di atas kertas.
Namun yang paling menyentuh hati bukanlah luas lahan yang ditanam, melainkan siapa yang menanamnya. Di tahun 2024, tercatat 34 kelompok masyarakat atau sekitar 1.827 jiwa turun ke lapangan, mencengkeram bibit dan menanamnya di tanah berlumpur dengan harapan tumbuh.
Jumlah itu berlanjut menjadi 11 kelompok pada 2025, dan kembali tumbuh menjadi 17 kelompok dengan 918 orang pada tahun ini. Harapan ke depan, sebanyak 65 kelompok dengan sekitar 3.510 warga pesisir akan bersatu merawat tanah leluhur mereka, sebuah kekuatan yang tak ternilai harganya.
Bagi warga pesisir, bakau bukan sekadar pohon pencegah abrasi. Ia adalah rumah bagi ikan, udang, dan kepiting yang menjadi sumber rezeki.
Bakau adalah benteng saat ombak besar datang menerjang, menjadi penyaring air yang menjernihkan sungai sebelum bermuara ke laut, bahkan menjadi sumber kehidupan yang mengalir tenang sepanjang tahun.
Kini, melalui program Pemanfaatan Usaha Mangrove (PUM) dan pengembangan ekowisata mangrove, pohon-pohon itu pun berubah menjadi sumber penghasilan yang adil dan berkelanjutan, membuktikan bahwa melestarikan alam sekaligus menyejahterakan manusia bukanlah hal yang mustahil.
Jantung Pesisir
Di antara hamparan kawasan yang membutuhkan perhatian, Delta Mahakam menjadi jantung yang paling vital. Di sana terpetakan sekitar 58.116 hektare kawasan yang membutuhkan sentuhan pemulihan menyeluruh, bak darah yang mengalir dari hulu hingga muara, menjaga keseimbangan seluruh benua.
Memulihkan mangrove bukanlah pekerjaan ringan, namun membutuhkan ketelatenan, kesabaran, dan pemahaman mendalam akan cara alam bekerja.
Tidak cukup hanya menanam dan pergi, karena lumpur pesisir butuh waktu untuk menstabilkan diri, dan akar butuh waktu untuk merambat kuat.
Oleh karena itu, program M4CR menerapkan pendampingan yang menyeluruh, satu kelompok didampingi satu pendamping yang memahami seluk-beluk ekosistem ini, berjalan bersama dari awal hingga pohon benar-benar berdiri tegak.
Tujuh langkah strategi telah dirancang secara terpadu, mulai dari melindungi sisa kawasan yang masih utuh agar tak berkurang lagi, mengubah pola tambak menjadi lebih ramah lingkungan, membuka jalan bagi hasil bumi pesisir agar bernilai tinggi di pasaran, hingga mengasah kemampuan warga agar mampu mengelola kekayaan sendiri secara mandiri.
Semuanya dijalankan bukan dengan cara memerintah dari jauh, melainkan berdiri berdampingan di atas tanah yang sama.
Kisah dari Muara Badak, Kutai Kartanegara ini menjadi bukti nyata bahwa kesabaran berbuah manis. Sejak tahun 2021, warga di sana menanam dan merawat, dan kini mereka mulai menikmati hasilnya, lahan yang sekaligus menjadi tempat budidaya ikan dan udang serta tujuan wisata alam yang menenangkan.
Manfaatnya tak datang seketika, namun tumbuh beriringan dengan pertumbuhan akar yang merambat kuat ke dalam tanah, sebuah pelajaran bahwa alam selalu memberi balasan yang setimpal bagi mereka yang merawatnya dengan tulus.
Menyongsong Masa Depan
Kegiatan Media Gathering ini bukan sekadar perjalanan melihat tanaman yang tumbuh. Namun menjadi ajang menyatukan pandangan dari berbagai kalangan baik media nasional, media lokal, hingga tokoh masyarakat, agar pesan penting ini terdengar luas dan mendalam, bahwa menjaga bakau berarti menjaga masa depan.
Rombongan menyusuri langsung lokasi penanaman yang telah berubah wajah, melihat cara kerja tambak yang selaras dengan alam, berbincang hangat dengan warga Desa Sepatin yang telah merasakan manfaat nyata dari program ini, hingga mengunjungi kawasan Ibu Kota Nusantara untuk melihat bagaimana konsep pembangunan baru pun turut menghormati keberadaan ekosistem pesisir.
Puncak Festival Mangrove Nasional pada Sabtu, 1 Agustus 2026 akan menjadi perayaan kebersamaan, namun perjalanan panjang sebenarnya masih akan terus berlanjut hingga akhir tahun dan seterusnya. Ini karena menanam mangrove bukanlah proyek yang selesai dalam hitungan bulan, melainkan janji yang harus dijaga turun-temurun.
Dari akar bakau yang menjalar ke dalam lumpur, tersimpan pelajaran paling berharga, kekuatan sejati tidak tampak di permukaan, melainkan tersembunyi dalam keterikatan yang kuat.
Seperti akar bakau yang saling bertaut menahan tanah agar tak hanyut terbawa ombak, demikian pula kita, manusia, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan media, harus berdiri bersama, saling menguat, untuk menjaga warisan mulia ini.
Kalimantan Timur telah membuktikan bahwa sebagian besar benteng alaminya masih berdiri tegak.
Tugas selanjutnya adalah memastikan benteng itu semakin kokoh, tak hanya untuk menahan hempasan ombak, melainkan untuk menjaga kehidupan yang berdenyut di dalamnya, untuk hari ini, untuk anak cucu, dan untuk Benua Etam. (Ary)