Ngabsen, Ngopi, Pulang: Antara Sindiran dan Makna Pengabdian

Ilustrasi, by AI

 287 total views,  287 views today

Oleh: Muriyanto, S.STP., M.Si

Belum lama ini, percakapan publik bergema oleh sebuah pernyataan yang menusuk hati. Dalam rapat kerja bersama Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Ketua Komisi II DPR RI M. Rifqinizamy Karsayuda melontarkan kalimat yang kini menjadi buah bibir, mentalitas sebagian Aparatur Sipil Negara masih terjebak dalam pola sederhana, datang isi absen, duduk menikmati kopi, lalu pulang saat waktu habis.

Kalimat itu melesat cepat, menyebar ke ruang obrolan dan halaman publik. Reaksi pun beragam. Ada yang merasa tersentak dan tersinggung, seolah seluruh pengabdian selama ini diringkas dalam tiga kata yang menyakitkan.

Ada pula yang merenung dalam, menyadari bahwa kritik itu adalah cermin yang tak selalu menyenangkan, namun perlu dilihat. Sebagian lagi menjawab dengan tawa dan canda, berjejer foto rapat dari pagi hingga senja, perjalanan dinas yang tak kenal waktu, rapat yang berlanjut hingga lampu kantor meredup, bukti bahwa banyak di antara kami tak sekadar duduk diam menunggu jam pulang.

Canda memang meredakan ketegangan. Namun di balik tawa itu terselip pertanyaan yang lebih dalam, adakah benarnya kalimat itu? Atau sekadar generalisasi yang menimpa semua, padahal kenyataannya tak demikian?

Tak Semua Langkah Sama

Menyamaratakan lebih dari empat juta ASN di seluruh penjuru negeri sungguh tidak adil. Ibarat mengatakan semua guru mengajar dengan cara yang sama, atau semua dokter melayani dengan hati yang setara.

Di setiap sudut kantor pemerintahan, selalu ada mereka yang datang lebih dulu sebelum pintu dibuka, pulang belakangan saat lampu jalan sudah menyala, yang rela mengorbankan hari libur demi menyelesaikan urusan rakyat, yang tetap menjawab panggilan saat waktu istirahat tiba.

Namun kita tak bisa memejamkan mata sepenuhnya. Masih ada segelintir yang memandang tugas sekadar rutinitas berulang. Datang tepat waktu, mencap absen, lalu menunggu jarum jam bergerak menuju waktu pulang, tanpa pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa manfaat yang sudah kuberikan hari ini?”. Bayangan kecil inilah yang kerap menutupi cahaya ribuan pengabdian yang tulus.

Filosofi Bambu yang Tak Terlihat

Ada sebuah hikmah tentang sebatang bambu yang cocok merenungi peran ini. Bertahun-tahun ia tumbuh tak tampak tinggi, akarnya merambat kuat di dalam tanah, memegang bumi erat-erat. Orang yang melihat mungkin mengira tak ada kemajuan. Namun saat fondasi itu kokoh, ia menjulang tegap, tak mudah tumbang meski badai datang menerpa.

Begitulah pula kerja seorang ASN. Hal yang tampak oleh mata mungkin hanya meja rapat, tanda tangan di lembar dokumen, atau jendela pelayanan yang terbuka.

Padahal di baliknya tersimpan perjalanan panjang, merangkai data yang berserakan, meramu aturan yang selaras, berdiskusi melewati perbedaan pandangan, bernegosiasi dengan keterbatasan anggaran, hingga memastikan setiap keputusan berpijak pada kepentingan yang paling luas. Proses ini tak selalu tampak, namun ia adalah jantung dari segala kebijakan yang lahir.

Di Balik Tanda Tangan

Banyak yang mengira pekerjaan kami hanyalah mengetik surat dan membubuhkan tanda tangan. Padahal satu surat keputusan saja lahir dari perjalanan yang berliku, dibutuhkan telaahan mendalam, nasihat hukum cermat, penyelarasan dengan peraturan yang lebih tinggi, penyuntingan kata demi kata agar maknanya tepat, hingga verifikasi yang teliti.

Ibarat gunung es, masyarakat hanya melihat tanda tangan di halaman terakhir, padahal di bawahnya tertumpuk analisis dan pemikiran yang tak terhitung jumlahnya.

Begitu pula saat jalan mulus terbentang, atau jembatan menghubungkan desa. Sesuatu yang tampak adalah aspal dan beton yang rapi. Hal yang tak terlihat adalah perencanaan matang, pembicaraan pembebasan lahan yang memakan waktu, perhitungan anggaran yang ketat, pengawasan yang tak kenal lelah, hingga pertanggungjawaban yang harus mematuhi aturan dengan ketat.

Secangkir Kopi Bukan Dosa

Kalau direnungkan, yang salah bukanlah kopinya. Secangkir kopi tak pernah menghambat pelayanan, yang keliru adalah jika waktu menyeruput kopi lebih panjang daripada waktu melayani yang membutuhkan. Jika rapat seharusnya pukul sembilan pagi, namun obrolan santai mengisi waktu hingga lewat jam sepuluh, tentu ada yang perlu diperbaiki.

Namun janganlah setiap ASN yang memegang cangkir langsung dianggap bermalas-malasan. Siapa tahu di sela itu ia merangkai kalimat laporan yang harus dikirim sebelum tengah malam, atau menyusun strategi agar bantuan tepat sasaran. Tak jarang ide-ide besar lahir bukan dari meja yang kaku, melainkan dari obrolan santai yang tulus ditemani secangkir kopi. Yang terpenting, saat kopi sudah tandas, pekerjaan pun tuntas.

Hakikat Pelayan Publik

Menjadi ASN bukan sekadar memegang jabatan atau menjamin masa depan. Kami adalah pelayan rakyat, pelaksana amanah negara, sekaligus perekat persatuan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Saat warga mengurus dokumen kependudukan, saat pelaku usaha meminta izin, saat ibu hamil mendapat pelayanan kesehatan, saat keluarga rentan menerima bantuan, saat sekolah berdiri tegak, saat jalan rusak diperbaiki, saat banjir diredam, di sanalah tangan kami bekerja.

Sering kali keberadaan kami baru terasa saat kami tak ada. Barulah disadari bahwa hal-hal kecil yang dianggap sepele, ternyata adalah urat nadi yang menjaga roda kehidupan tetap berputar.

Cermin Diri

Kritik yang datang tak perlu ditolak mentah-mentah. Ia adalah cermin. Jika wajah tampak kusut di sana, yang dibersihkan bukanlah cerminnya, melainkan diri kita sendiri. Namun di sisi lain, masyarakat pun berhak melihat kami secara utuh. Jangan biarkan satu-dua kisah kelam menutup ribuan kisah pengabdian yang tak pernah tersorot berita.

Ada pepatah lama dari negeri sakura “Visi tanpa tindakan adalah lamunan. Tindakan tanpa visi adalah mimpi buruk”. ASN membutuhkan keduanya, arah jelas dan langkah nyata.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan kami bukanlah seberapa lama kami duduk di kantor, atau seberapa rapi absen kami terisi. Melainkan seberapa dalam manfaat yang dirasakan oleh mereka yang kami layani. Absensi hanya membuktikan kami hadir secara raga. Namun pelayananlah yang membuktikan kami hadir dengan jiwa.

Maka jika kelak masih ada yang berkata, “Mereka hanya datang, minum kopi, lalu pulang,” jawaban terbaik bukanlah perdebatan panjang. Melainkan kinerja yang makin nyata, pelayanan yang makin ringkas, dan manfaat yang makin terasa nyata di tengah masyarakat. Nama baik seorang abdi negara tak dibangun oleh kata-kata, melainkan oleh karya yang terus mengalir, demi negeri yang lebih baik.

 

wartaikn.com @ 2023