210 total views, 210 views today
Samarinda, wartawan.com – Di antara warna wastra, aroma kopi, ragam pangan lokal, dan geliat kreativitas pelaku usaha, terajut asa besar. Mahakarya Etam Festival 2026 menghadirkan lebih dari sekadar perayaan produk unggulan daerah.
Festival ini menjadi ruang perjumpaan gagasan, penguatan usaha, dan upaya merajut masa depan ekonomi Kalimantan Timur yang inklusif, berdampak, serta berkelanjutan.
Ada banyak cara untuk membaca denyut sebuah daerah. Salah satunya melalui karya masyarakatnya. Dari selembar kain yang ditenun dengan ketekunan, secangkir kopi yang diracik penuh keterampilan, hingga aneka pangan olahan yang lahir dari kekayaan alam dan kreativitas warga, tersimpan cerita tentang daya hidup ekonomi lokal.
Cerita itulah yang terasa di Atrium Big Mall Samarinda. Sejak Jumat (6/11), ruang perbelanjaan tersebut berubah menjadi panggung pertemuan berbagai karya cantik dan unik.
Lebih dari 100 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hadir membawa produk unggulan mereka. Wastra, kriya, makanan, dan minuman olahan khas Kalimantan Timur memenuhi ruang pameran, menawarkan lebih dari sekadar barang untuk dibeli.
Setiap produk menyimpan perjalanan, keterampilan, dan harapan para pelakunya untuk tumbuh lebih jauh.
Di tengah persaingan pasar yang semakin terbuka, karya lokal membutuhkan ruang untuk dikenal, diapresiasi, dan menemukan pembeli.
Karena itu, Mahakarya Etam Festival bukan sekadar agenda pameran tahunan. Festival ini menjadi salah satu ikhtiar mempertemukan potensi daerah dengan peluang ekonomi yang lebih luas.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur menghadirkan MEF 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat UMKM, memperluas literasi Rupiah, sekaligus mempercepat digitalisasi sistem pembayaran.
Melanjutkan gelaran Kaltim Paradise of the East pada tahun sebelumnya, festival kali ini mengusung tema “Penguatan Sinergi dan Integrasi Kebijakan untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif, Berdampak, dan Berkelanjutan”.
Tema tersebut membawa pesan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya diukur melalui angka-angka. Pertumbuhan juga harus dirasakan oleh masyarakat, membuka kesempatan bagi usaha kecil untuk berkembang, menciptakan lapangan kerja, serta menghadirkan manfaat yang dapat dinikmati secara lebih merata.
Sinergi jadi jalan tumbuh
Pembukaan MEF 2026 berlangsung dengan kehadiran Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia Solikin M. Juhro secara daring. Hadir pula Staf Ahli Gubernur Bidang Reformasi Birokrasi dan Keuangan Daerah, Siti Farisyah Yana, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, pimpinan instansi vertikal, perbankan, pemerintah daerah, mitra strategis, serta pelaku UMKM.
Dalam sambutannya, Solikin M. Juhro mengingatkan bahwa kekuatan ekonomi daerah tidak hanya bertumpu pada sumber daya alam. Potensi yang dimiliki daerah perlu diolah melalui sinergi agar mampu melahirkan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang semakin beragam.
Kalimantan Timur memiliki kekayaan alam, budaya, dan sumber daya manusia yang dapat menjadi fondasi pengembangan ekonomi. Namun, kekayaan tersebut membutuhkan sentuhan inovasi, peningkatan kualitas produk, akses pembiayaan, dan jangkauan pasar yang lebih luas.
Melalui pesan “SAMARINDA”, yang berarti Satukan Langkah, Majukan Usaha, serta Rupiah, Inklusi, dan Digitalisasi yang Aman, Bank Indonesia mengajak seluruh pemangku kepentingan bergerak dalam satu arah.
Pesan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa kemajuan UMKM tidak bisa dibangun sendirian. Pelaku usaha membutuhkan dukungan pemerintah, perbankan, lembaga pendamping, komunitas kreatif, serta masyarakat sebagai konsumen.
Kualitas produk harus terus ditingkatkan. Kemasan perlu diperbaiki, identitas lokal diperkuat, dan pemasaran diperluas dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.
Ini penting karena produk yang lahir dari kampung-kampung di Kalimantan Timur sesungguhnya memiliki kesempatan yang sama untuk dikenal di pasar nasional, bahkan menembus pasar internasional.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur Jajang Hermawan mengatakan, MEF 2026 menjadi wadah untuk memperkenalkan produk unggulan daerah, memperluas kemitraan usaha, serta mendekatkan edukasi Rupiah dan pembayaran digital kepada masyarakat.
Festival ini dirancang agar masyarakat tidak hanya menjadi pengunjung, tetapi juga terlibat dalam berbagai kegiatan yang memberikan pengalaman, pengetahuan, dan kesempatan untuk berinteraksi dengan pelaku usaha.
Sementara Siti Farisyah Yana mengapresiasi sinergi Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan seluruh mitra dalam mendukung pengembangan UMKM.
Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat daya saing produk lokal, membuka peluang usaha dan lapangan kerja, serta memperluas manfaat pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat Kalimantan Timur.
Peluang pasar
Di antara berbagai produk yang dipamerkan, wastra dan kriya menghadirkan cerita tersendiri. Keduanya bukan sekadar hasil keterampilan tangan, melainkan bagian dari identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Motif, warna, dan teknik pengerjaan menyimpan jejak pengetahuan masyarakat. Ketika wastra diperkenalkan kepada pasar yang lebih luas, sesungguhnya ada upaya menjaga kebudayaan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para perajin.
Melalui gelar wicara wastra, MEF 2026 mencoba mempertemukan tradisi dengan perkembangan industri kreatif. Wastra tidak hanya ditempatkan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga didorong menjadi sumber inspirasi bagi desain dan produk yang relevan dengan kebutuhan masa kini.
Ruang kreatif tersebut diperkuat dengan kegiatan temu bisnis BIMA ETAM. Di sinilah pelaku UMKM memperoleh kesempatan membangun hubungan dengan calon mitra, memperluas jejaring usaha, serta membuka akses pembiayaan.
Bagi usaha kecil, pertemuan semacam ini dapat menjadi pintu menuju perjalanan yang lebih besar. Sebuah percakapan dengan calon pembeli atau mitra usaha bisa berkembang menjadi kerja sama jangka panjang.
Tantangan UMKM memang tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan produk. Banyak pelaku usaha memiliki kualitas dan kreativitas, tetapi masih menghadapi keterbatasan modal, pemasaran, teknologi, hingga pengelolaan usaha.
Karena itu, mempertemukan pelaku UMKM dengan ekosistem pendukung menjadi bagian penting dari upaya membangun usaha yang lebih tangguh.
Harapannya, setelah festival berakhir, hubungan yang terbangun tidak ikut berhenti. Kemitraan tetap berjalan, akses pasar semakin terbuka, dan produk lokal terus menemukan ruang untuk berkembang.
Mengenal Rupiah
Di tengah semarak produk lokal, MEF 2026 juga menghadirkan pesan penting mengenai Rupiah.
Uang bukan sekadar alat pembayaran. Di dalamnya terdapat identitas bangsa, simbol kedaulatan negara, sekaligus bagian dari perjalanan ekonomi masyarakat.
Melalui pameran Museum Bank Indonesia, masyarakat diajak mengenal lebih dekat sejarah dan perjalanan Rupiah. Edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah turut dihadirkan untuk menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya memperlakukan mata uang negara dengan baik.
Rangkaian edukasi tersebut diperkuat melalui kegiatan SummerFest atau Sekolah Unggul Membangun Makna Edukasi Rupiah, termasuk layanan penukaran uang koin.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa literasi keuangan perlu dibangun sejak dini. Anak-anak dan generasi muda perlu memahami fungsi uang, mengenali ciri keasliannya, serta membiasakan perilaku bijak dalam mengelola keuangan.
Pada saat bersamaan, perkembangan teknologi menghadirkan cara baru dalam melakukan transaksi. Pembayaran digital semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, termasuk para pelaku UMKM.
Melalui QRIS, transaksi menjadi lebih praktis dan dapat menjangkau konsumen yang semakin terbiasa menggunakan pembayaran nontunai.
Namun, kemudahan tersebut harus berjalan seiring dengan pemahaman mengenai keamanan transaksi dan perlindungan konsumen.
Karena itu, MEF 2026 tidak berhenti pada pengenalan teknologi pembayaran. Festival ini juga menyiapkan rangkaian MEF-QRISPerience pada 13–15 November 2026.
Melalui kegiatan dan berbagai perlombaan, masyarakat diajak mengenal manfaat pembayaran digital, memahami cara bertransaksi secara aman, menjaga data pribadi, serta mengenali berbagai risiko kejahatan digital.
Pesan yang ingin dibangun sederhana, teknologi seharusnya membuat kehidupan ekonomi lebih mudah, bukan menghadirkan persoalan baru bagi masyarakat.
Menemukan panggung
Salah satu hal menarik dari Mahakarya Etam Festival adalah ruang yang diberikan kepada generasi muda dan komunitas kreatif.
Melalui Mahakam Barista, generasi muda diperkenalkan pada dunia kopi dan keterampilan meracik minuman. Sementara bootcamp fashion wastra pelajar dan wastra innovation challenge membuka kesempatan bagi pelajar untuk mengeksplorasi kekayaan budaya melalui kreativitas.
Ada pula lomba cerdas cermat Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah, serta berbagai perlombaan seni dan kreasi pangan lokal.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan ekonomi daerah tidak hanya berkaitan dengan pelaku usaha yang telah mapan. Anak-anak muda juga memiliki peran penting sebagai pencipta gagasan, inovator, dan penggerak ekonomi kreatif.
Mereka adalah generasi yang kelak akan menentukan bagaimana potensi daerah diolah dan diperkenalkan kepada dunia.
Ketika kekayaan budaya dipertemukan dengan kreativitas generasi muda, terbuka peluang lahirnya produk-produk baru yang memiliki nilai tambah tanpa kehilangan akar identitasnya.
Festival ini juga menghadirkan medical corner yang menyediakan pemeriksaan kesehatan dasar secara gratis bagi masyarakat.
Kehadiran layanan tersebut memperluas makna festival, bahwa pembangunan ekonomi yang inklusif juga perlu memperhatikan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.
Menjaga api kolaborasi
Mahakarya Etam Festival 2026 berlangsung hingga 8 November di Atrium Big Mall Samarinda. Namun, semangat yang dibawa festival ini diharapkan tidak berhenti ketika panggung kegiatan ditutup.
Sebab, ukuran keberhasilan sebuah festival bukan semata-mata jumlah pengunjung atau ramainya transaksi selama pameran berlangsung.
Keberhasilan yang lebih bermakna adalah ketika pelaku UMKM memperoleh pembeli baru, menemukan mitra usaha, mendapatkan akses pembiayaan, dan mampu meningkatkan kualitas produknya.
Begitu pula dengan literasi Rupiah dan digitalisasi. Pengetahuan yang diperoleh masyarakat harus tumbuh menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah upaya Kalimantan Timur memperkuat transformasi ekonomi, UMKM memiliki tempat penting sebagai penggerak ekonomi rakyat. Sektor ini menyimpan potensi untuk menciptakan lapangan kerja, menggerakkan produksi, serta memperkuat ekonomi masyarakat hingga ke wilayah-wilayah yang jauh dari pusat perkotaan.
Karena itu, sinergi pemerintah daerah, Bank Indonesia, perbankan, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat menjadi modal penting untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya besar dalam angka, tetapi juga luas dalam manfaat.
Melalui MEF 2026, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan seluruh mitra berupaya merajut hubungan antara karya, peluang, pengetahuan, dan teknologi.
Dari selembar wastra, secangkir kopi, hingga produk pangan olahan, setiap karya membawa harapan tentang masa depan yang lebih baik.
Bumi Etam tidak kekurangan potensi. Yang diperlukan adalah keberanian untuk mengembangkan, kemauan untuk berkolaborasi, dan kesempatan agar setiap karya menemukan jalannya menuju pasar yang lebih luas.
Pada akhirnya, Mahakarya Etam Festival bukan hanya tentang apa yang dipamerkan selama beberapa hari. Lebih dari itu, festival ini adalah tentang bagaimana sebuah daerah menghargai karya warganya, menumbuhkan usaha kecil, dan memastikan kemajuan ekonomi dapat dirasakan bersama.
Sebab, pertumbuhan yang sesungguhnya bukan hanya ketika ekonomi bergerak semakin cepat, melainkan ketika semakin banyak masyarakat ikut berjalan dan menikmati hasilnya.