Ketika Koperasi Merah Putih Hadir, Masihkah BUMDes Releven?

 328 total views,  328 views today

Oleh: J. Kuleh (Pengamat Ekonomi)

Kehadiran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) menjadi salah satu kebijakan ekonomi desa paling ambisius dalam beberapa tahun terakhir.

Melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025, pemerintah menargetkan pembentukan sekitar 80.000 koperasi desa dan kelurahan sebagai instrumen penguatan ekonomi rakyat, distribusi pangan, logistik, hingga pembiayaan usaha masyarakat.

Namun di tengah euforia tersebut, muncul pertanyaan wajar: ๐—ธ๐—ฒ ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต ๐—•๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—จ๐˜€๐—ฎ๐—ต๐—ฎ ๐— ๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ธ ๐——๐—ฒ๐˜€๐—ฎ (๐—•๐—จ๐— ๐——๐—ฒ๐˜€)

Pertanyaan ini penting karena selama satu dekade terakhir, BUMDes telah menjadi simbol pembangunan ekonomi desa. Ribuan BUMDes tumbuh dengan berbagai model usaha, mulai dari pengelolaan wisata, perdagangan hasil pertanian, pengelolaan air bersih, hingga usaha jasa dan perdagangan.

Bahkan beberapa BUMDes mampu menghasilkan omzet miliaran rupiah setiap tahun dan menjadi sumber Pendapatan Asli Desa (PADes).

Pemerintah sebenarnya telah berulang kali menegaskan bahwa Kopdes Merah Putih tidak dibentuk untuk menggantikan atau menghapus BUMDes.

Menteri Desa maupun Menteri Koperasi menyatakan bahwa kedua lembaga tersebut akan berjalan berdampingan dan saling melengkapi.

BUMDes tetap eksis sebagai badan usaha milik desa, sementara koperasi berfungsi sebagai wadah ekonomi berbasis keanggotaan masyarakat.

๐— ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต๐—ป๐˜†๐—ฎ, ๐—ฝ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ๐˜๐—ถ๐—ธ ๐—ฑ๐—ถ ๐—น๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐˜€๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—น๐˜‚ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—ฑ๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐—ฎ ๐—ธ๐—ผ๐—ป๐˜€๐—ฒ๐—ฝ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐—ธ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐˜€.
Kopdes Merah Putih dirancang memiliki unit usaha yang cukup luas, mulai dari gerai sembako, simpan pinjam, apotek, klinik, gudang, cold storage hingga jaringan logistik.

Di banyak desa, sektor-sektor tersebut justru selama ini menjadi sumber usaha utama BUMDes. Jika tidak ada pembagian peran yang jelas, potensi tumpang tindih usaha sangat besar.

Dalam perspektif ekonomi kelembagaan, keberadaan dua institusi yang bergerak pada bidang serupa dapat menghasilkan dua kemungkinan.
Pertama, terjadi kompetisi yang melemahkan keduanya karena memperebutkan pasar yang sama. Kedua, tercipta kolaborasi yang memperkuat rantai nilai ekonomi desa.

๐—ฃ๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ป๐—ด ๐—ถ๐—ฑ๐—ฒ๐—ฎ๐—น

BUMDes seharusnya tidak lagi terjebak menjadi “๐˜๐—ผ๐—ธ๐—ผ ๐—ฑ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ” atau sekadar unit perdagangan kecil. Kehadiran Kopdes Merah Putih justru dapat menjadi momentum transformasi BUMDes menuju level yang lebih tinggi.

๐˜‰๐˜œ๐˜”๐˜‹๐˜ฆ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข, ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜ด๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ต๐˜ช๐˜ง, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ธ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ข, ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ.

Sementara ๐˜’๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด ๐˜”๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜—๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ต๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜บ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข.

Dengan kata lain, BUMDes menjadi “๐™ฅ๐™ง๐™ค๐™™๐™ช๐™จ๐™š๐™ฃ ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™ฅ๐™š๐™ฃ๐™œ๐™š๐™ก๐™ค๐™ก๐™– ๐™–๐™จ๐™š๐™ฉ”, sedangkan koperasi menjadi “๐™ฅ๐™š๐™ฃ๐™œ๐™œ๐™š๐™ง๐™–๐™  ๐™ฅ๐™–๐™จ๐™–๐™ง ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™™๐™ž๐™จ๐™ฉ๐™ง๐™ž๐™—๐™ช๐™จ๐™ž”.

Tantangan berikutnya adalah soal sumber daya manusia. Banyak BUMDes hingga saat ini masih menghadapi persoalan tata kelola, profesionalisme pengurus, dan keterbatasan modal.

Jika pemerintah memberikan dukungan pembiayaan, infrastruktur, dan pendampingan yang jauh lebih besar kepada Kopdes Merah Putih dibanding BUMDes, bukan tidak mungkin terjadi migrasi aktivitas ekonomi desa ke koperasi dan membuat BUMDes perlahan kehilangan peran strategisnya. Fenomena ini perlu diantisipasi sejak awal.

Lebih jauh lagi, pemerintah desa perlu memastikan bahwa keberadaan dua lembaga ekonomi ini tidak menimbulkan konflik kepentingan, perebutan aset, maupun persaingan internal yang justru menghambat pembangunan desa.

Regulasi teknis mengenai pembagian fungsi, kemitraan usaha, dan model bisnis bersama menjadi kebutuhan mendesak.

Pemerintah sendiri telah menyatakan akan menyiapkan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis hubungan antara BUMDes dan Kopdes Merah Putih.

Pada akhirnya, masa depan BUMDes sangat ditentukan oleh kemampuan beradaptasi. Jika tetap bertahan dengan pola usaha tradisional, BUMDes berisiko terpinggirkan oleh koperasi yang memperoleh dukungan sistemik dan jaringan nasional.

Namun jika mampu bertransformasi menjadi perusahaan desa yang profesional, inovatif, dan berbasis potensi lokal, maka BUMDes justru akan naik kelas sebagai pengelola aset dan investasi desa yang bermitra dengan Kopdes Merah Putih.

Sinergi ini hanya akan terwujud jika pemerintah pusat lintas kementerianโ€”baik Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, maupun Kementerian Koperasiโ€”segera menuntaskan sintesa regulasi yang sinkron.

Pemerintah daerah juga wajib aktif memfasilitasi ๐™ˆ๐™ช๐™จ๐™ฎ๐™–๐™ฌ๐™–๐™ง๐™–๐™ ๐˜ฟ๐™š๐™จ๐™– ๐™†๐™๐™ช๐™จ๐™ช๐™จ (๐™ˆ๐™ช๐™จ๐™™๐™š๐™จ๐™จ๐™ช๐™จ) ๐™ช๐™ฃ๐™ฉ๐™ช๐™  ๐™ข๐™š๐™ข๐™š๐™ฉ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™ฅ๐™š๐™ฉ๐™– ๐™Ÿ๐™–๐™ก๐™–๐™ฃ (๐™ง๐™ค๐™–๐™™๐™ข๐™–๐™ฅ) ๐™—๐™ž๐™จ๐™ฃ๐™ž๐™จ ๐™ ๐™š๐™™๐™ช๐™– ๐™ก๐™š๐™ข๐™—๐™–๐™œ๐™– ๐™ž๐™ฃ๐™ž ๐™–๐™œ๐™–๐™ง ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™—๐™š๐™ง๐™—๐™š๐™ฃ๐™ฉ๐™ช๐™ง๐™–๐™ฃ ๐™™๐™ž ๐™ก๐™–๐™ฅ๐™–๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ.

Karena itu, pertanyaan “๐˜ฝ๐™๐™ˆ๐˜ฟ๐™š๐™จ ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™™๐™ž๐™—๐™–๐™ฌ๐™– ๐™ ๐™š ๐™ข๐™–๐™ฃ๐™–?” sesungguhnya dapat dijawab dengan satu kalimat sederhana: BUMDes tidak boleh berjalan ke belakang ketika koperasi bergerak ke depan.

Keduanya harus berjalan berdampingan sebagai dua pilar utama ekonomi desa Indonesia. Jika sinergi itu berhasil diwujudkan, maka desa bukan hanya menjadi objek pembangunan, melainkan pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.

Warta Kita

wartaikn.com @ 2023