Sebelum Kehilangan Jabatan

Ilustrator

 282 total views,  282 views today

By: Espe

Samarinda, wartaikn.com – Suatu malam, seorang teman datang ke rumah. Kami telah bersahabat lebih dari dua puluh tahun. Hubungan kami bukan sekadar pertemanan, tetapi telah terasa seperti saudara.

“Aku perlu uang. Hari Senin nanti aku kembalikan.”

Kalimat itu diucapkannya pada Kamis malam. Saya tidak berpikir panjang. Saya percaya kepadanya. Persahabatan yang telah terjalin puluhan tahun membuat saya tidak memiliki alasan untuk menaruh curiga. Lagi pula, saya percaya bahwa setiap orang sesungguhnya dipegang oleh kata-katanya.

Hari Senin berlalu. Berganti Selasa, Rabu, lalu pekan demi pekan. Sebulan kemudian, pinjaman itu belum juga dikembalikan. Saya masih berusaha berpikir baik. Mungkin ia sedang mengalami kesulitan.

Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Tanpa terasa, lima tahun telah berlalu, tetapi janji yang diucapkannya pada Kamis malam itu belum juga menjadi kenyataan.

Saya tidak tega menagih. Namun, rasa ingin tahu akhirnya mendorong saya bertanya kepada beberapa teman. Di luar dugaan, hampir semuanya pernah mengalami hal yang sama. Ternyata saya bukan satu-satunya orang yang pernah memberikan kepercayaan kepadanya.

Saya sedih.

Bukan semata-mata karena uang yang belum kembali. Yang lebih menyedihkan ialah melihat seorang teman perlahan kehilangan kepercayaan orang-orang di sekelilingnya.

Saya tidak pernah menolak jika ia datang ke rumah. Persahabatan tetap saya jaga. Namun, untuk mempercayai kata-katanya seperti dahulu, saya tidak lagi mampu.

Pengalaman ini bukan yang pertama saya alami. Bedanya, dahulu pelakunya bukan teman dekat. Kali ini justru seseorang yang telah saya anggap seperti saudara. Dari situlah saya menyadari bahwa yang paling mahal dalam sebuah hubungan ternyata bukan uang, melainkan kepercayaan.

Setiap orang sesungguhnya dipegang oleh kata-katanya. Integritas lahir ketika ucapan sejalan dengan tindakan. Sebaliknya, ketika kata-kata tidak lagi dipercaya, apa pun yang diucapkan akan dipandang dengan keraguan.

Itulah sebabnya, ada tokoh-tokoh publik yang setiap kali berbicara selalu menuai cibiran. Bukan karena seluruh ucapannya keliru, melainkan karena kepercayaan masyarakat terhadap dirinya telah lebih dahulu memudar.

Mengapa kepercayaan bisa hilang?

Pertama, karena ingkar terhadap janji. Kepercayaan tumbuh ketika seseorang menepati ucapannya. Sebaliknya, janji yang mudah diucapkan tetapi berulang kali diabaikan akan membuat orang mulai meragukan setiap perkataannya.

Apa yang terjadi pada teman saya bukan hanya kepada saya, melainkan juga kepada banyak teman lainnya.

Kedua, karena tidak jujur terhadap keadaan. Jika seseorang belum mampu memenuhi janjinya, mengatakan terus terang jauh lebih baik daripada membiarkan orang lain menunggu tanpa kepastian. Diam sering kali lebih melukai daripada sebuah pengakuan yang jujur.

Ketiga, karena tidak bertanggung jawab. Meminjam uang bukanlah sebuah kesalahan. Banyak orang pernah berada dalam kesulitan.

Namun, menghindar, tidak memberi kabar, atau bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa justru memperbesar kekecewaan orang yang telah memberikan kepercayaan.

Keempat, karena menganggap remeh kepercayaan orang lain. Kedekatan sering kali membuat seseorang merasa akan selalu dimaklumi.

Padahal, justru kepada orang-orang terdekatlah amanah harus dijaga sebaik-baiknya. Kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun dapat runtuh hanya oleh satu sikap yang dianggap sepele.

Kelima, karena kehilangan integritas. Integritas bukan sekadar pandai berbicara, melainkan kesediaan memegang teguh apa yang telah diucapkan. Ketika kata dan perbuatan berjalan di jalan yang berbeda, runtuhlah kepercayaan.

Keenam, karena kesalahan yang sama terus diulang. Setiap orang dapat berbuat khilaf dan masih pantas diberi kesempatan.

Namun, ketika pola yang sama terus berulang tanpa iktikad memperbaiki diri, orang lain perlahan memilih menjaga jarak. Bukan karena membenci, melainkan karena mereka tidak ingin kembali dikecewakan.

Apa yang terjadi pada teman saya sesungguhnya dapat terjadi kepada siapa saja. Kepercayaan adalah modal sosial yang berlaku dalam keluarga, organisasi, dunia usaha, maupun kehidupan politik.

Bagi seorang pejabat publik atau politisi, kepercayaan bahkan lebih mahal daripada jabatan. Jabatan dapat diperoleh melalui pemilihan atau pengangkatan, tetapi kepercayaan hanya diperoleh melalui konsistensi antara ucapan dan tindakan.

Sekali kepercayaan itu retak, setiap pernyataan akan disambut dengan keraguan. Bukan karena semua ucapannya salah, melainkan karena masyarakat tidak lagi yakin kepada orang yang mengucapkannya.

Saya sering merasa kasihan kepada orang-orang yang mengalami keadaan seperti ini. Mungkin tidak semua yang mereka katakan keliru.

Bahkan bisa jadi ada gagasan yang baik dan layak didukung. Namun, karena kepercayaan telah hilang, masyarakat cenderung menolak lebih dahulu sebelum mendengarkan. Kebenaran pun sering tenggelam bersama pudarnya kepercayaan.

Pada akhirnya, yang hilang bukan hanya uang. Yang jauh lebih mahal adalah kepercayaan. Uang masih dapat dicari kembali, tetapi kepercayaan dibangun sedikit demi sedikit melalui kejujuran, tanggung jawab, dan kesetiaan pada janji.

Saya tidak memusuhi teman itu. Saya tidak pula menutup pintu rumah ketika ia datang. Yang tertutup hanyalah pintu kepercayaan.

Saya hanya berharap ia menyadari bahwa yang sedang hilang dari dirinya bukan sekadar nama baik, melainkan kepercayaan orang-orang yang selama ini menganggapnya sebagai sahabat.

Kepercayaan datang dengan langkah yang pelan, tetapi pergi dengan langkah yang sangat cepat.

Ketika ia telah pergi, kita sering baru menyadari bahwa yang hilang bukan hanya keyakinan orang lain kepada kita, melainkan juga sebagian dari kehormatan yang kita miliki.

Sebelum kehilangan jabatan, seseorang sesungguhnya lebih dahulu kehilangan kepercayaan. Ketika kepercayaan telah pergi, ia sedang berjalan menuju kesunyian di tengah keramaian. (SP)

wartaikn.com @ 2023