Menanam Bibit Harapan di Bumi Nusantara

Penanaman pohon di IKN. (Foto: Humas OIKN)

 92 total views,  92 views today

Nusantara, wartaikn.com. Udara pagi di kawasan Embung G, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan Nusantara, terasa sejuk dan menyegarkan. Di tanah yang kelak akan menjadi jantung ibu kota baru Indonesia itu, suara tawa dan percakapan hangat berpadu dengan langkah kaki ribuan orang yang bergerak beriringan.

Mereka membawa bibit pohon, cangkul, dan semangat yang sama, menanam kehidupan, menjaga alam, dan meletakkan satu lagi batu penjuru bagi masa depan yang berkelanjutan.

Selasa, 7 Juli 2026, menjadi hari penuh makna bagi sekitar 1.000 peserta berkumpul. Mulai dari insan Otorita IKN, mitra kerja sama PT ITCI Hutani Manunggal, siswa SMA Taruna Nusantara, petugas Polresta IKN, para pensiunan pegawai Kementerian PUPR, mahasiswa KKN UGM, hingga warga dari berbagai pelosok negeri. Semua hadir sebagai satu keluarga besar yang merawat bumi.

“Selamat datang dan bergabung ke dalam tim impian Ibu Kota Nusantara,” ujar Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono dengan senyum tulus saat menyambut para peserta.
Bagi Basuki, kegiatan ini jauh melampaui sekadar seremonial peringatan Hari Konservasi Alam Sedunia.

“Ini bukan sekadar upacara simbolis. Menanam pohon adalah cara kita berjanji pada alam, bahwa di tengah pembangunan yang pesat, kita tak akan pernah melupakan siapa yang memberi kita kehidupan,” ujarnya.

Ribuan Bibit untuk Satu Hutan

Hari itu, sebanyak 1.200 batang bibit ditanam dengan hati-hati di sepanjang lereng dan halaman Embung G. Bukan jenis yang seragam, melainkan 17 ragam tanaman pilihan, mulai dari pohon kayu-kayuan endemik Kalimantan, jenis serbaguna yang bermanfaat bagi masyarakat, hingga tanaman hias yang memperindah pemandangan.

Semua spesies bibit tersebut dipilih dengan teliti agar saling melengkapi, menciptakan ekosistem yang kuat, lestari, harmonis, dan penuh keindahan.

Kegiatan ini adalah satu lembar lagi dalam kisah besar langkah penghijauan di IKN. Basuki menegaskan bahwa komitmen menjaga alam telah berjalan jauh sebelum gedung-gedung mulai menjulang.

“Sampai hari ini, kita telah menanam lebih dari 8.947 hektare hutan baru, dengan jumlah tanaman mencapai lebih dari 5 juta batang. kemudian hari ini, kita menambahnya lagi,” ujarnya.

Moto Protect Nature, Preserve Our Future “Lindungi Alam, Jaga Masa Depan Kita”, bukan sekadar tulisan di spanduk, melainkan napas yang menggerakkan setiap langkah pembangunan di sini.

Sementara bagi Diana, yang datang bersama Ikatan Pensiunan Pekerjaan Umum (IPPU), kunjungan ini bagai mimpi yang menjadi nyata.

Selama puluhan tahun mengabdi pada pembangunan infrastruktur, ia baru kali ini menginjakkan kaki di IKN. Matanya menatap takjub pada hamparan hijau yang membentang luas, jalur-jalan yang rapi, dan udara yang terasa begitu bersih.

“Jujur, saya tak menyangka akan melihat pemandangan seperti ini,” aku Diana dengan suara lembut namun bergetar haru.

“Dulu saya hanya membayangkan, tapi hari ini saya melihatnya sendiri. Begitu hijau, begitu sejuk, seolah-olah berjalan di sini bisa menambah usia. Hal yang dulu terasa mustahil, kini berdiri tegak di depan mata kita.”

Jejak Kaum Muda

Di tengah kerumunan, semangat muda tak kalah menyala. Tiga puluh mahasiswa KKN-PPM UGM Pelita Nusantara hadir dengan antusiasme menular.

Salah satunya adalah Christian Perdana Putra Malau, yang sengaja memilih bertugas di Sepaku karena ingin menyaksikan sekaligus menjadi bagian dari sejarah lahirnya ibu kota baru.

“Bagi saya, IKN adalah jawaban atas pertanyaan besar “bisakah kita membangun kota modern tanpa merusak alam?” ungkap Christian saat sedang merapikan tanah di sekitar bibit yang baru ditanam.

“Konsep kota hutan yang diusung di sini sungguh menginspirasi. Kita tidak harus memilih antara maju atau lestari, keduanya bisa berjalan beriringan.”

Bagi generasi muda seperti dia, menanam pohon hari ini bukan sekadar tugas pengabdian, melainkan warisan yang ditinggalkan untuk masa depan.

“Mereka ingin kelak ketika pohon-pohon ini tumbuh menjulang, anak cucu mereka tahu bahwa kemajuan tak berarti harus mengorbankan bumi, tempat kita berpijak.”
Pujian dari Benua Seberang

Kehadiran Mike Davidson, pembawa acara serial internasional How Did They Fix That? asal Kanada, menambah warna pada kegiatan ini. Ia telah berkeliling dunia melihat berbagai upaya pembangunan berkelanjutan, namun apa yang ia saksikan di Embung G membuatnya terkesan luar biasa.

“Saya sudah sering ikut menanam pohon di berbagai negara, tapi belum pernah melihat semangat sebesar ini, dalam skala seluas ini, dan dengan suasana yang begitu menyatukan hati semua orang,” ujar Mike dengan pandangan kagum menyapu sekeliling kawasan.

“Nusantara ini indah, bukan hanya karena pemandangannya, tapi karena filosofinya, membangun dengan rasa hormat pada alam. Tempat ini sungguh istimewa.”

Penghubung Masa Lalu dan Esok Hari

Saat matahari perlahan merunduk ke barat, menyisakan cahaya keemasan di antara dedaunan yang baru saja ditanam, satu hal menjadi jelas, IKN tidak sedang dibangun di atas alam, melainkan bersama alam.

Setiap pohon yang berdiri tegak di sini adalah janji bahwa kemajuan sejati adalah yang membawa kebaikan bagi seluruh makhluk, sejak kini dan selamanya.

Ribuan langkah kaki yang meninggalkan Embung G hari itu membawa kenangan yang tak terlupakan. Mereka pulang dengan hati puas, meninggalkan ribuan harapan yang sedang berakar kuat di tanah Kalimantan.

Suatu hari nanti, ketika dahan-dahan itu rimbun melindungi jalanan, banyak yang akan ingat, di sinilah harapan dimulai dengan tangan yang bersih, niat yang tulus, dan keyakinan bahwa bumi yang dirawat hari ini adalah rumah yang layak untuk diwariskan esok hari.

wartaikn.com @ 2023