270 total views, 270 views today
Perusda Harus Naik Kelas Jadi Raja Bisnis Energi Kota Industri
Oleh: J Kuleh (Pengamat Ekonomi, Scienceprenuer FEB Unmul)
Samarinda, wartaikn.com – Di tengah besarnya potensi industri dan energi di Kota Bontang, keberadaan PT Bontang Migas dan Energi seharusnya tidak lagi hanya dikenal sebagai perusahaan penyalur jaringan gas rumah tangga.
Jika hanya berhenti di dapur pelanggan, maka perusahaan daerah (perusda) ini sedang menyia-nyiakan peluang bisnis bernilai miliaran rupiah yang sebenarnya terbuka lebar di depan mata.
Bontang bukan kota kecil biasa. Kota ini hidup dari denyut industri besar, mulai dari LNG, pupuk, energi, pelabuhan, hingga kawasan industri strategis.
Artinya, kebutuhan energi di kota ini tidak akan pernah berhenti tumbuh. Persoalannya, apakah perusahaan daerah mampu membaca peluang atau justru hanya menjadi penonton di rumah sendiri?
Sudah saatnya PT Bontang Migas dan Energi naik kelas menjadi holding energi daerah modern dengan model bisnis yang agresif, adaptif, dan berorientasi profit jangka panjang.
Dunia energi hari ini bukan lagi sekadar jual beli gas. Industri energi sudah berubah menjadi ekosistem bisnis raksasa yang menyentuh transportasi, listrik, digitalisasi, energi hijau, hingga perdagangan karbon.
Salah satu sektor yang sangat potensial adalah bisnis gas industri dan komersial. Selama ini restoran, hotel, rumah sakit, laundry, hingga UMKM masih bergantung pada LPG konvensional.
Padahal, sistem jaringan gas komersial jauh lebih efisien, aman, dan stabil. Ini pasar besar yang belum tergarap maksimal.
Bayangkan jika seluruh kawasan usaha di Bontang menggunakan layanan energi milik perusahaan daerah sendiri, maka arus pendapatan perusahaan akan jauh lebih stabil dibanding hanya mengandalkan pelanggan rumah tangga.
Belum lagi peluang bisnis SPBG atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas untuk kendaraan. Ketika harga BBM terus naik dan isu emisi karbon semakin ketat, penggunaan BBG menjadi solusi masa depan.
Armada pemerintah, kendaraan operasional industri, hingga transportasi umum dapat menjadi target pasar yang sangat menjanjikan.
Jika perusahaan daerah mampu masuk lebih awal, maka mereka bisa menjadi pemain utama energi transportasi di Kalimantan Timur.
Namun yang paling menarik adalah peluang energi hijau. Dunia sedang bergerak menuju transisi energi bersih, sehingga perusahaan daerah tidak boleh tertinggal.
Bisnis solar panel, lampu jalan tenaga surya, hingga pembangkit listrik tenaga surya atap bisa menjadi “ladang uang baru” yang sangat potensial.
Apalagi banyak perusahaan besar kini mulai diwajibkan menggunakan energi rendah karbon sebagai bagian dari standar ESG atau Environmental, Social, and Governance.
Tidak hanya itu, PT Bontang Migas dan Energi juga bisa masuk ke bisnis charging station kendaraan listrik.
Hari ini mungkin kendaraan listrik belum mendominasi jalanan Bontang, tetapi lima sampai sepuluh tahun ke depan situasinya akan berubah total. Siapa yang lebih dulu membangun infrastruktur charging station, dialah yang akan menguasai pasar energi masa depan.
Peluang besar lainnya ada pada bisnis jasa engineering dan maintenance energi. Kota industri seperti Bontang membutuhkan banyak jasa perawatan pipa, instalasi energi, monitoring jaringan, hingga maintenance utilitas industri.
Selama ini sektor tersebut banyak diisi perusahaan luar daerah. Pertanyaannya, kenapa perusahaan daerah tidak mengambil peluang tersebut?
Lebih jauh lagi, PT Bontang Migas dan Energi bahkan dapat masuk ke bisnis perdagangan karbon atau carbon trading. Ini memang terdengar futuristik, tetapi dunia bisnis global saat ini sedang berlomba menurunkan emisi karbon.
Perusahaan yang mampu mengembangkan energi hijau dan program pengurangan emisi akan memiliki nilai ekonomi baru melalui kredit karbon. Nilainya tidak kecil, bahkan bisa menjadi sumber pendapatan strategis masa depan.
Kunci utama keberhasilan semua itu sebenarnya sederhana: keberanian berubah. Perusahaan daerah tidak boleh lagi berpikir birokratis dan lamban. Dunia bisnis energi bergerak cepat.