Nyepi Saka 1948 di Samarinda Pertegas Pesan Satu Bumi, Satu Keluarga

Nyepi Saka
Nyepi Saka di Samarinda. (Foto: Ist)

 964 total views,  4 views today

Samarinda, wartaikn.com – Di tengah dinamika Kota Samarinda sebagai simpul penting Kalimantan Timur, umat Hindu bersiap menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948.

Tahun ini perayaan mengusung tema universal “Vasudhaiva Kutumbakam”, sebuah pesan kuno dari kitab suci yang menegaskan bahwa seluruh penghuni bumi adalah satu keluarga besar.

Dalam pembangunan dan transisi wilayah sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), tema ini dipilih untuk mengingatkan kembali pentingnya kohesi sosial dan persaudaraan lintas identitas.

Hening untuk kemanusiaan global, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Kota Samarinda (PHDI Kota Samarinda), I Putu Suberata menjelaskan bahwa pelaksanaan Catur Brata Penyepian bukan sekadar ritual isolasi diri, melainkan bentuk solidaritas umat terhadap bumi.

“Saat kami berhenti sejenak dari aktivitas (amati karya) dan perjalanan (amati lelungan), kami sedang memberi ruang bagi bumi untuk pulih. Ini adalah kontribusi kecil kami bagi keberlanjutan ‘Satu Bumi’ yang kita tinggali bersama,” ujarnya.

Filosofi Vasudhaiva Kutumbakam (Dunia adalah satu keluarga) diterjemahkan dalam rangkaian ritual di Pura Jagat Hita Karana Samarinda sebagai ajakan untuk menghapus sekat-sekat perbedaan mengutamakan harmoni.

I Putu Suberata menambahkan bahwa rangkaian hari suci Nyepi sebagai bentuk Ritual dan Simbolisme Keluarga Bumi yang terdiri dari berbagai kegiatan:

1. Melasti (Penyucian Alam) (Selasa, 17 Maret): Pembersihan sarana prasarana di sumber air (Sungai Mahakam) sebagai simbol penyucian makrokosmos dan mikrokosmos, mengingatkan bahwa kita semua meminum dari sumber kehidupan yang sama.

Upacara Melasti sebagai bentuk penyucian diri dan alam semesta yang dilakukan oleh umat Hindu di Indonesia, khususnya di Bali, untuk menyambut Hari Raya Nyepi. Upacara ini biasanya dilaksanakan 3 atau 4 hari sebelum Nyepi.

Tujuan Utama Melasti, berdasarkan lontar Sanghyang Aji Swamandala, Melasti memiliki dua tujuan spiritual yang sangat penting:

a. Nganyudang Afrebu Malaning Gumi: Menghanyutkan kotoran alam semesta (buwana agung).

b. Ngambil Angge Amerta: Mengambil sari pati kehidupan (air suci) dari sumber air untuk menyucikan diri manusia (buwana alit).

Secara sederhana, Melasti adalah ritual “bersih-bersih lahir dan batin agar umat siap menjalankan Catur Brata Penyepian dalam keadaan suci. Prosesi dan Simbolisme, dalam prosesi Melasti, umat akan mengarak Pratima (simbol stana Tuhan) dan Pralingga dari sumber air untuk menyucikan diri manusia (buwana alit).

Secara sederhana, Melasti adalah ritual “bersih-bersih lahir dan batin agar umat siap menjalankan Catur Brata Penyepian dalam keadaan suci. Prosesi dan Simbolisme, dalam prosesi Melasti, umat akan mengarak Pratima (simbol stana Tuhan) dan Pralingga dari pura menuju sumber air. Berikut adalah elemen pentingnya:

a. Pratima/Pralingga bahwa simbol kehadiran Tuhan dan manifestasi-Nya yang perlu disucikan secara ritual.

b. Pajeng & Umbul-umbul yakni simbol kehormatan dan kemuliaan.

c. Gamelan Balaganjur sebagai musik pengiring untuk membangkitkan semangat dan mengusir roh jahat.

d. Tirta Penglukatan yakni Air suci yang digunakan untuk memercikkan kesucian kepada umat.

2. Tawur Agung Kesanga & Pengrupukan (Pawai Ogoh-Ogoh) (Rabu, 18 Maret 2026): Upacara harmonisasi energi alam untuk menetralisir

konflik dan energi negatif, agar kedamaian senantiasa melingkupi keluarga besar warga Samarinda. Tawur agung kesanga dan pawai ogoh-ogoh akan dilaksanakan pada 18 Maret 2026 di Pura Jagat Hita Karana, Samarinda.

3. Catur Brata Penyepian (Kamis, 19 Maret 2026): Masa kontemplasi 24 jam untuk berefleksi diri, memastikan bahwa tindakan kita sebagai individu tidak mencederai harmoni keluarga besar umat manusia. Melalui pelaksanaan Catur Brata Penyepian yakni Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan umat Hindu di Samarinda mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memaknai hening sebagai instrumen pembersihan diri.

4. Ngembak Geni (Jumat, 20 Maret 2026): Momentum silaturahmi pasca Nyepi untuk saling memaafkan, mempererat kembali ikatan persaudaraan antarwarga tanpa memandang latar belakang.

Lebih lanjut, Ketua Panitia Nyepi Tahun Saka 1948 I Gusti Bagus Armayasa menambahkan bahwa seluruh tahapan persiapan hingga pelaksanaan hari raya Nyepi telah berlangsung sejak beberapa hari, dimulai dari tahap matur piuning, kemudian dilanjutkan gotong royong pembuatan sarana banten upacara.

Sebelum melakukan upacara melasti, kami lebih dulu melakukan ritual “Nunas Bhatara Tirta di Segara /laut”, hingga sampai hari ini upacara Melasti dan selanjutnya Tawur Kesanga dan Pengrupukan, sampai kemudian pelaksanaan hari raya Nyepi itu sendiri” pungkas I Gusti Bagus Armayasa.

Panitia mengapresiasi dukungan masyarakat Samarinda yang selama ini menjunjung tinggi toleransi. Melalui kesunyian Nyepi, umat Hindu mengajak seluruh warga untuk merefleksikan kembali peran masing-masing dalam menjaga kedamaian dan kelestarian lingkungan di Kalimantan Timur.

“Nyepi Saka 1948 adalah momentum untuk menyadari bahwa apa yang terjadi pada satu bagian bumi, akan berdampak pada kita semua. Kita adalah satu keluarga besar yang memikul tanggung jawab bersama atas masa depan bumi ini,” pungkas perwakilan panitia.

Pada sisi lain, I Made Subamia menambahkan bahwa di tengah kemajemukan Samarinda, ritual Tawur Agung Kesanga yang dilaksanakan sehari sebelum Nyepi, menjadi simbolisasi pembersihan energi negatif (bhuta kala) agar berubah menjadi energi positif bagi lingkungan sekitar.

“Nyepi bukan hanya tentang berdiam diri di dalam rumah. Ini adalah bentuk kontribusi spiritual umat untuk mendoakan kedamaian Kalimantan Timur, terutama saat kita bertransformasi menjadi pusat gravitasi baru Indonesia,” ujar perwakilan tokoh umat Hindu Samarinda.

wartaikn.com @ 2023