Permohonan Hujan di Tanah Kutai

Salat Istisqa di Makodim Kukar
Salat Istisqa di Makodim Kukar. (Foto: Prokom Kukar)

 126 total views,  126 views today

Tenggarong, wartaikn.com – Musim kemarau membentang panjang di tanah Kutai Kartanegara. Angin yang berhembus terasa kering dan hangat, menyapu dedaunan yang perlahan berubah warna menjadi kekuningan, menyisir permukaan tanah yang mulai retak menanti tetesan yang tak kunjung turun.

Sungai-sungai kecil menyusut, genangan air perlahan lenyap, dan di udara mulai terasa aroma yang menandakan bahaya. Bahaya yang datang bersamaan dengan kemarau panjang, api yang mudah tersulut, lahan yang gersang terbakar.

Kekeringan dan potensi kebakaran hutan dan lahan pun perlahan menjadi kenyataan yang harus dihadapi di sejumlah wilayah Kukar.

Ketika kemampuan tangan manusia telah berjuang sekuat tenaga di lapangan, memantau titik panas, memantau titik api, memadamkan kobaran, memberi peringatan, masih ada satu jalan yang tak pernah tertutup, jalan langit.

Ikhtiar hati yang tulus. Doa yang menyatu menjadi harapan bersama. Maka pada Minggu pagi, 30 Agustus 2026, halaman Makodim 0906/Kukar berubah menjadi ladang ibadah.

Di sanalah pemerintah daerah, TNI, Polri, para tokoh masyarakat, dan warga berdiri berjejer hingga sujud bersama, satu niat, satu permohonan, melaksanakan Salat Istisqa, memohon rahmat hujan menyirami bumi yang sedang haus.

Suasana berlangsung khidmat dan penuh kekhusyukan. Di bawah naungan langit yang terang namun terasa kering, ribuan jamaah menunduk rendah, membasuh dada dengan kerendahan hati, menyampaikan permohonan, turunkanlah hujan, Ya Allah.

Sejukkan bumi yang sedang terbakar. Penuhi sungai-sungai yang mulai surut. Basahi tanah yang retak. Agar kekeringan berakhir dan bahaya api mereda.

Salat itu dipimpin oleh Ustaz Muhibbin Ali, yang suaranya tenang namun penuh pengharapan, memandu langkah dan bacaan yang menyatukan hati semua orang yang hadir di sana.

Kebersamaan

Hadir dalam kesungguhan itu Sekretaris Daerah Kabupaten Kukar, Sunggono, bersama Dandim 0906/Kukar Letkol Arm Benny Budiman, Kapolres Kukar AKBP Khairil Basyar, Wakil Ketua II DPRD Kukar Junaidi.

Ada pula Kajari Kukar Aji Kalbu Pribadi, Ketua Dewan Masjid Indonesia Kukar Edi Damansyah, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Fida Hurasani, serta para tokoh dan masyarakat luas.

Para pemimpin tak berdiri terpisah di tempat yang terhormat semata, mereka ikut bersujud bersama rakyat, memanjatkan permohonan yang sama, menyadari bahwa di hadapan langit dan Sang Pemilik Segala Sesuatu, semua insan sama, hamba yang memohon pertolongan.

Sekda Sunggono menyampaikan makna mendalam dari kebersamaan itu. Ini merupakan upaya memohon kepada Allah SWT agar memberi curah hujan, sehingga berbagai bencana yang sedang terjadi, seperti karhutla di beberapa titik, dapat segera berakhir.

Kalimat itu sederhana namun menggambarkan keutuhan niat. Bahwa curah hujan yang dimohon bukan sekadar air yang jatuh dari langit, melainkan obat bagi tanah yang terbakar, penghidup bagi sumber air yang menyusut, penenang bagi kekhawatiran warga yang melihat asap mengepul di kejauhan.

Turunnya hujan diharapkan menyelesaikan sekaligus dua persoalan berat, mengakhiri kekeringan yang menyulitkan kehidupan sehari-hari, sekaligus memadamkan dan mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan yang merugikan bumi.

“Mari kita panjatkan doa dan harapan bersama agar kondisi ini segera berakhir dan masyarakat Kukar dapat kembali menikmati turunnya hujan,” ajak Sunggono.

Sebuah ajakan yang mengalir lembut namun menggugah hati bahwa kekuatan doa yang bersumber dari kebersamaan bisa menjadi kekuatan yang luar biasa besar.

Ikhtiar dan Harapan

Dandim 0906/Kukar Letkol Arm Benny Budiman, memaknai momen itu sebagai kelengkapan dari segala upaya yang telah dilakukan di lapangan.

TNI, Polri, pemerintah daerah, dan seluruh pihak terkait terus bergerak bersinergi, melakukan pencegahan, memantau titik panas, bergegas memadamkan api begitu terlihat berkobar.

Langkah nyata tak pernah berhenti. Namun di samping peluh yang menetes di lapangan, ada pula ikhtiar jiwa yang tak boleh dilupakan.

“Ini adalah ikhtiar melalui pendekatan spiritual, Salat Istisqa. Dengan kerendahan hati, kita menyatukan ikhtiar dan doa,” ujar Dandim.

Dua hal itu berdiri berdampingan, tangan yang bekerja keras mencegah dan memadamkan, hati yang bersujud memohon pertolongan Yang Maha Kuasa.

Ikhtiar manusia membentangkan kemampuan sekuat tenaga, doa manusia membuka ruang bagi pertolongan Ilahi. Keduanya saling melengkapi, bukan saling menggantikan.

Sebuah kebijaksanaan yang mengingatkan tentang berusaha sekuat tenaga, lalu pasrahkan sisanya kepada Yang Memegang Kendali Langit dan Bumi.

Momen Salat Istisqa itu pun menjadi lebih dari sekadar ibadah permohonan turunnya hujan.

Itu menjadi pengikat kebersamaan bahwa di tengah tantangan alam yang berat, pemerintah daerah, unsur pimpinan, TNI, Polri, tokoh agama, dan masyarakat tetap berdiri dalam satu niat.

Tak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih berkuasa di saat bumi sedang haus. Semua merasa senasib, sepenanggungan, berharap hal yang sama agar kemarau segera berlalu, air kembali mengalir melimpah, api mereda menjadi abu yang dingin.

Menanti Langit Membuka Rahmat
Pemkab Kukar pun mengajak seluruh masyarakat melengkapi doa itu dengan kewaspadaan yang nyata.

Tetap berhati-hati agar tidak menyalakan api sembarangan di ladang maupun di pekarangan rumah.

Menghindari kebiasaan membakar sampah atau sisa tanaman yang di musim kering ini dapat dengan mudah menjalar menjadi kobaran yang meluas tak terkendali.

Doa dan kehati-hatian, keduanya adalah wujud penghormatan kepada bumi tempat manusia berpijak dan langit tempat harapan ditujukan.

Ketika salat selesai diakhiri dan doa pun terangkat tinggi, tak ada yang tahu kapan tetesan pertama akan jatuh membasahi dahi bumi yang gersang.

Namun satu hal yang pasti, para hati yang bersatu dalam permohonan itu telah menumbuhkan kekuatan tersendiri.

Bahwa ketika hujan kelak turun entah pagi atau petang, esok atau lusa, itu bukan sekadar turun memenuhi kebutuhan semata.

Ia turun membawa jawaban atas ribuan doa yang terpanjat dalam kesungguhan, turun menyirami tanah yang dijaga oleh peluh dan kesadaran bersama.

Semoga langit Kukar segera membuka pintu rahmat-Nya. Semoga awan kelabu berkumpul melindungi teriknya matahari, lalu hujan turun perlahan namun terus menerus membasahi tanah yang retak, mendinginkan hutan yang berisiko terbakar, mengisi kembali sungai dan sumur yang menyusut.

Semoga setelah itu wajah-wajah yang tadi menanti dengan cemas perlahan bersinar kembali.

Bukan sekadar karena hujan telah turun, melainkan karena bumi kembali aman, kehidupan kembali tenang, dan doa yang disatukan ternyata sungguh didengar.

wartaikn.com @ 2023