Menilik Batik Tulis Kutai Barat yang Tumbuh dari Pelatihan PT BEK

Jajaran PT BEK foto bersama para pembantik Kutai Barat. (foto/ist/ BEK)

 426 total views,  426 views today

Kutai Barat, wartaikn.com – Selembar kain putih yang dahulu hanya menjadi media latihan, kini telah menjelma menjadi Batik Tulis Kutai Barat dengan motif-motif yang mengangkat kekayaan flora, fauna, dan budaya lokal.

Dalam waktu kurang dari setahun, tangan-tangan para perajin lokal mulai menghadirkan identitas baru bagi Kabupaten Kutai Barat. Perjalanan itu berawal dari program pelatihan yang diinisiasi PT Bharinto Ekatama (BEK).

Dari puluhan peserta yang mengikuti pelatihan selama tiga bulan, kini tersisa sekitar 12 perajin yang terus bertahan dan mengembangkan keterampilannya melalui pendampingan berkelanjutan.

Community Development Head PT BEK, Kristinawati mengatakan, program pengembangan Batik Tulis Kutai Barat tidak hanya berfokus pada pelatihan, tetapi juga pembinaan agar para perajin mampu terus berinovasi.

“Program Batik Tulis Kutai Barat ini sudah berjalan hampir satu tahun. Setelah pelatihan selama tiga bulan, sekitar 12 orang pengrajin terus melanjutkan program ini. Karena mereka memiliki minat yang besar, kami terus membina dan mendampingi mereka. Program ini juga kami jalankan bersama pemerintah daerah melalui kerja sama dengan Dekranasda,” katanya.

Menurut dia, perusahaan mengambil peran sebagai pendukung dengan menghadirkan program, memberikan pembinaan, memperluas pengetahuan para perajin, serta mendorong lahirnya inovasi motif yang mampu merepresentasikan kekayaan budaya Kutai Barat.

Meski batik bukan merupakan budaya asli masyarakat Kutai Barat, namun perusahaan melihat hal tersebut dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan identitas daerah melalui ragam motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya lokal.
Ia mengaku perkembangan para perajin selama hampir satu tahun terakhir melampaui perkiraan perusahaan.

“Menurut saya, apa yang sudah mereka capai selama hampir satu tahun ini sangat baik, bahkan di luar ekspektasi. Saya katakan demikian karena batik bukan budaya asli Kutai Barat, tetapi para perajin mampu mengembangkan motif-motif yang memiliki ciri khas daerah dan terus menunjukkan kreativitas mereka,” ucapnya.

Ia mengatakan batik dipilih bukan karena merupakan budaya asli Kutai Barat, melainkan sebagai media untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah melalui motif-motif khas yang diangkat dari alam dan tradisi setempat.

“Kutai Barat memiliki banyak warisan budaya yang menjadi ciri khas daerah. Sementara batik kami gunakan sebagai media untuk mengangkat kekayaan budaya Kutai Barat melalui motif-motif yang diadaptasi dari flora, fauna, budaya, hingga kekayaan alam daerah. Karena itu, motif Batik Kutai Barat memiliki karakter yang berbeda,” tuturnya.

Menurutnya, kemampuan para perajin berkembang pesat sejak mengikuti pelatihan. Meski pada awalnya masih mengalami berbagai kendala, terutama dalam teknik pewarnaan, kini mereka telah mampu menghasilkan karya dengan kualitas yang semakin baik.
Keunikan batik tulis justru terletak pada proses pengerjaannya yang sepenuhnya dilakukan dengan tangan. Ketidaksempurnaan kecil dalam setiap lembar kain menjadi ciri khas yang membedakannya dari batik printing yang diproduksi secara massal.

Ia mengaku bangga karena Kutai Barat kini telah memiliki perajin lokal yang mampu menghasilkan batik tulis dengan identitas daerah sendiri. Bahkan, produk-produk tersebut telah berkembang menjadi beragam, mulai dari kain batik, seragam, tas, hingga pouch yang dapat dipesan sebagai suvenir.

Selain dimanfaatkan sebagai cendera mata bagi tamu dan pemangku kepentingan perusahaan, karya para perajin juga rutin dipromosikan melalui berbagai pameran bersama Dekranasda Kutai barat.

Produk tersebut bahkan sudah pernah mengikuti pameran di Belanda tahun ini. Kesempatan itu difasilitasi oleh Dinas ESDM sehingga Batik Tulis Kutai Barat bisa dipamerkan di luar negeri.

Tentu ia bersyukur jika produknya dibeli, tetapi yang lebih penting bagi mereka adalah Batik Tulis Kutai Barat sudah berhasil diperkenalkan hingga ke luar negeri.

“Kami mengirim produk seperti pouch, tas, dan kain batik sehingga masyarakat internasional mulai melihat hasil karya pengrajin kami. Selain itu harapannya program ini dapat berkelanjutan dan diserahkan kepada pemerintah daerah agar tetap berlanjut ke depannya. Tanpa kerjasama dan dunkungan dari pemerintah kami tidak akan bisa berjalan sendiri,” ujarnya.

Salah seorang pengerajin, Ungan, yang sudah lebih dari dua dekade menetap di Kampung Sumber Sari mengaku tidak pernah merasa usia menjadi hambatan untuk terus berkarya.

Ungan mengaku bersyukur karena masih bisa naik motor, jadi masih bisa ke mana-mana dan berangkat kerja sendiri. Ia juga mengaku nyaman ikut membatik karena mendapat pengalaman baru. Daripada di rumah tidak ada kegiatan.

Ia berasal dari Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara. Setelah berpisah dengan suaminya, ia menjalani keseharian dengan mengandalkan pekerjaannya sebagai pembatik.

Di tangan perempuan itu, berbagai motif khas Kutai Barat mulai hidup di atas kain, mulai dari motif Kriong, Embun ke7, Tanah Purai, enam etnis kubar hingga ragam motif lain yang terinspirasi dari budaya dan kekayaan alam setempat.

Menurutnya, justru motif-motif khas daerah itulah yang paling banyak diminati pembeli. Namun, menghasilkan selembar batik tulis bukan pekerjaan singkat.

Setiap detail harus digoreskan dengan kelembutan tangan sehingga membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Untuk satu lembar batik bermotif rumit, seorang perajin dapat menghabiskan waktu dua hingga tiga hari.

Harga yang ditawarkan pun sebanding dengan proses pembuatannya, berkisar antara Rp500.000 hingga Rp1 juta per lembar.

Meski demikian, ia mengakui batik tulis tidak selalu memberikan penghasilan yang pasti karena proses pengerjaannya lebih lama dibanding batik cap yang dapat diproduksi dalam jumlah lebih banyak.
Menurut dia, kehadiran program pendampingan yang dijalankan PT BEK menjadi salah satu penopang bagi para perajin.

“Manfaatnya bisa menambah penghasilan keluarga. Bagi saya pribadi, program ini sangat membantu kebutuhan keluarga. Harapan saya semoga terus didampingi, sehingga kami bisa mandiri, tetap bekerja bersama dalam kelompok, dan usaha ini semakin maju, bukan hanya untuk saya tetapi juga untuk ibu-ibu yang lain,” imbuhnya.

Pengrajin lainnya, Sutrianingsih, perempuan asal Jawa ini menambahkan membatik bukan sekadar tantangan baru baginya, tetapi juga ruang untuk belajar dan mengembangkan diri.

“Kalau perbedaannya tentu ada. Di batik kami jadi bisa mengenal dunia luar, mengembangkan keahlian, belajar membuat kain dan baju batik. Kalau dari sisi pendapatan, menurut saya kurang lebih sama. Tetapi pengalaman yang didapat jauh lebih banyak,” tambahnya.

Ia mengaku semula tidak mengenal motif-motif khas Kutai Barat. Namun, seiring mengikuti pelatihan, ia mulai memahami proses membatik dan ikut menghasilkan kain dengan corak yang terinspirasi dari kekayaan budaya daerah.

Bersama kelompoknya, ia bekerja setiap hari, Senin hingga Jumat. Dalam sepekan, kelompok perajin mampu menghasilkan sekitar lima hingga tujuh lembar batik tulis.

Sementara untuk batik cap, produksinya dapat mencapai sekitar 50 lembar dalam waktu yang sama.
Menurutnya, setiap jenis batik memiliki karakter yang berbeda. Batik tulis membutuhkan ketelitian dan waktu lebih lama sehingga harga jualnya pun lebih tinggi, berkisar antara Rp500.000 hingga Rp1 juta per lembar, bergantung pada tingkat kerumitan motif.

Adapun batik cap dijual mulai Rp300.000 hingga Rp350.000 per lembar kain berukuran dua meter.
Produk-produk tersebut kini telah dipasarkan dan mulai dikenal masyarakat. .

Baginya, capaian itu menjadi bukti bahwa keterampilan yang dipelajari bersama kelompoknya memiliki nilai ekonomi.

Meski bekerja secara berkelompok tidak selalu lepas dari tantangan, ia menilai kebersamaan menjadi kekuatan utama dalam mengembangkan usaha batik.

Menurutnya, dampingan program oleh BEK ini bisa mengangkat ibu-ibu agar memiliki kesempatan menuju kehidupan yang lebih baik.

“Dulu banyak yang hanya di rumah. Sekarang kami punya kegiatan, punya keterampilan, dan hasil karya kami mulai dikenal masyarakat luas. Sampai sekarang kami juga masih didampingi setiap hari, sehingga semangat untuk terus berkembang tetap terjaga,” jelasnya.

 

Ia berharap pendampingan terhadap para perajin terus berlanjut. Menurutnya, program tersebut membuka kesempatan bagi ibu rumah tangga untuk berkarya sekaligus memperoleh penghasilan tambahan.

Di balik setiap lembar Batik Tulis Kutai Barat yang dihasilkan, tersimpan kisah perempuan-perempuan yang berani memulai langkah baru.
Dari dapur katering hingga meja canting, Sutrianingsih membuktikan bahwa kesempatan belajar dapat datang kapan saja, dan dari sanalah harapan baru mulai ditorehkan. (*)

wartaikn.com @ 2023