244 total views, 244 views today
Samarinda, wartaikn.com – Di tengah riuh kehidupan yang terus berputar, masjid selalu berdiri tegak bagai mercusuar yang tak pernah padam cahayanya. Dinding-dindingnya menyimpan bisikan doa, sujud syukur, dan air mata penyesalan yang tumpah di sepertiga malam.
Selama berpuluh-puluh tahun, masjid dikenal sebagai rumah Allah. Tempat menampung ibadah, tempat jamaah melipat tangan dalam takzim, dan tempat hati kembali tenang setelah lelah berjuang untuk dunia.
Di sudut-sudutnya, selalu terpasang kotak amal, wadah tulus yang menerima tetes demi tetes keikhlasan hamba, yang kelak mengalir menjadi berkah bagi mereka yang membutuhkan.
Namun, di ruang rapat yang penuh kehangatan di Aula Majelis Ulama Indonesia Kalimantan Timur, Rabu, 12 Agustus 2026, sebuah gagasan hadir bagai embun pagi yang menyejukkan jiwa. Sebuah seruan yang menggetarkan hati setiap pengelola masjid dan setiap orang yang mencintai rumah Allah.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Samarinda, Nasrun, menyampaikan dengan nada lembut namun tegas, seolah ingin menanamkan makna baru pada keberadaan masjid di tengah masyarakat.
Ia menyebut, masjid sudah lama memiliki kotak amal untuk menampung rupiah yang mengalir, maka kini sudah saatnya masjid juga memiliki “kotak masalah”, sebuah wadah tulus yang menampung setiap keluh, setiap kesah, setiap beban yang memikul pundak warga di sekitarnya.
“Kalau selama ini di masjid kita mengenal kotak amal, kenapa tidak kita berpikir tentang kotak masalah?” begitu ucap Nasrun, yang kemudian meresap ke dalam sanubari para hadirin.
Pertanyaan sederhana itu sesungguhnya menyimpan makna yang begitu dalam. Bahwa kehadiran masjid di tengah pemukiman bukanlah sekadar untuk dihuni pada lima waktu salat, bukan sekadar tempat melaksanakan ritual ibadah, lalu beranjak pulang kembali ke urusan dunia.
Masjid harus menjadi jantung kehidupan umat, tempat di mana setiap orang merasa aman, didengar, dan dibantu.
Ketika seseorang tertimpa musibah, ketika keluarga sedang dalam perselisihan, ketika anak-anak terlantar tanpa biaya pendidikan, ketika ekonomi sedang terpuruk tak berdaya. Ke manakah mereka harus berpaling? Seharusnya, masjid adalah tempat pertama yang mereka tuju.
Di masjid itulah berkah mengalir, di sanalah tangan-tangan peduli siap merangkul, dan di sanalah jalan keluar yang senantiasa dicarikan bersama.
Nasrun mengingatkan bahwa persoalan umat tidak selalu berkaitan dengan kekurangan harta. Ada yang bersedih karena anaknya tak tersekolahkan, ada yang gelisah karena rumah tangganya sedang retak, ada yang memendam kesepian karena menjadi yatim piatu tanpa siapa pun yang mempedulikan.
Masjid tidak boleh berpaling dari semua itu. Masjid tidak boleh hanya menjadi saksi sujud para jamaah, namun tetap diam melihat tetangga di sebelahnya hidup dalam kesulitan.
“Jangan sampai kita setiap hari membaca Al-Quran dan beribadah, tetapi masih tidak peduli dengan lingkungan kita,” ujarnya.
Kalimat itu bagai cambuk lembut yang menyadarkan semua. Bahwa bacaan Al-Quran yang dilantunkan setiap hari seharusnya melahirkan kepedulian, melahirkan kelembutan hati, melahirkan keinginan untuk meringankan beban sesama.
Jika ibadah yang panjang tidak membuat hati lunak terhadap penderitaan orang lain, maka belum sempurnalah pemahaman atas ajaran yang dibawa Nabi tercinta.
Itulah makna sejati dari “kotak masalah” yang digagasnya. Bukan sekadar sebuah kotak dari kayu atau logam yang diletakkan di sudut ruangan. Melainkan sebuah kesadaran yang hidup di dada setiap pengurus masjid.
Setiap keluh warga sebenarnya adalah keluh bersama, setiap beban yang dipikul saudara kita adalah beban yang harus disandang bersama pula. Masjid menjadi tempat berpulihnya hati, tempat dicarinya jalan keluar, tempat di mana tak ada satu pun orang yang merasa sendirian dalam menghadapi ujian kehidupan.
Mengelola Amanah
Kepedulian insan tidak cukup hanya dengan hati yang tergerak, tapi harus ada langkah nyata, ada tata kelola yang baik, ada kebijaksanaan dalam memanfaatkan apa yang telah Allah titipkan melalui tangan-tangan dermawan yang bersedekah.
Nasrun pun mengingatkan kembali agar dana-dana yang terkumpul di masjid dikelola dengan sebaik-baiknya, sesuai aturan dan penuh tanggung jawab, sebab setiap rupiah yang masuk adalah amanah itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Yang Maha Menjaga.
Dana yang dikelola dengan jujur dan teratur, sebutnya, dapat diarahkan untuk pemberdayaan umat yang lebih luas. Bukan sekadar dibagikan begitu saja sebagai bantuan sesaat, melainkan juga diupayakan agar mampu menumbuhkan kemandirian.
Salah satunya melalui skema pinjaman tanpa bunga bagi mereka yang membutuhkan modal untuk berusaha. Dengan demikian, bantuan itu tidak menjadi sedekah yang habis seketika, melainkan menjadi benih yang kelak tumbuh menjadi pohon kehidupan yang memberi naungan bagi keluarga mereka.
Semakin banyak yang mampu berdiri tegak dengan usahanya sendiri, semakin ringan pula beban yang dipikul oleh seluruh masyarakat.
Kolaborasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) pun menjadi jalan yang dianjurkan agar bantuan itu jatuh tepat kepada mereka yang benar-benar berhak menerima.
Nasrun memberi pesan yang tak kalah penting, pendataan terhadap mereka yang membutuhkan harus dilakukan dengan teliti, akurat, dan penuh kehati-hatian.
Jangan sampai ada yang berhak namun terlewat, atau ada yang sudah terpenuhi kebutuhannya namun masih tercatat menerima bantuan berkali-kali.
Kesalahan data bukan sekadar kekeliruan administrasi, melainkan dapat melahirkan kecemburuan, ketidakadilan, dan menipisnya kepercayaan masyarakat terhadap masjid. Kehilangan kepercayaan adalah kerugian yang jauh lebih besar ketimbang sekadar kehilangan harta.
Semua ini dilakukan agar masjid benar-benar menjadi benteng yang melindungi, menjadi tangan yang mengangkat, menjadi payung yang meneduhkan.
Setiap rupiah yang dikeluarkan membawa berkah, setiap langkah yang diambil membawa kebaikan, dan setiap bantuan yang disalurkan membawa harapan baru bagi mereka yang sedang tertatih dalam perjalanan hidup.
Menyapa Tunas dengan Bijaksana
Di samping kepedulian terhadap persoalan sosial dan ekonomi, Nasrun juga menyampaikan pesan yang menyentuh hati, masjid harus kembali merangkul generasi muda, karena merekalah tunas bangsa calon pengganti yang tua.
Jangan sampai masjid hanya menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang telah berusia lanjut, sementara anak-anak dan remaja merasa asing, merasa jauh, merasa bahwa masjid bukan tempat mereka.
Jika ingin anak-anak dan remaja datang dengan sukarela, maka cara menyapa pun harus disesuaikan dengan dunia mereka. Pendekatan yang digunakan haruslah pendekatan yang mereka pahami, bahasa yang mereka mengerti, dan suasana yang membuat hati mereka merasa nyaman, bahkan betah.
Maka, hadirlah gagasan yang segar dan penuh harapan. Mengapa tidak menghadirkan ruang santai yang menyenangkan di lingkungan masjid, semacam tempat berkumpul yang sederhana namun meneduhkan?
Mengapa tidak menyediakan jaringan internet yang bermanfaat dan terjaga kesopanannya? Mengapa tidak membuka ruang belajar bahasa asing, keterampilan, dan pengetahuan yang bermanfaat bagi masa depan mereka?
Semua itu bukan untuk mengubah fungsi masjid, bukan pula untuk mencampuradukkan urusan dunia dengan urusan ibadah. Melainkan sebagai jembatan penghubung, sebagai pintu yang terbuka lebar agar hati anak-anak muda perlahan mendekat, perlahan mengenal, perlahan mencintai rumah Allah.
“Kalau kita ingin menarik anak-anak ke masjid, mestinya materinya dan caranya juga menggunakan pendekatan anak-anak,” begitu nasihat Nasrun.
Sebuah kebijaksanaan yang patut direnungkan. Bahwa dakwah itu bukan dengan memaksa, bukan dengan menghukum, bukan dengan membentak. Melainkan dengan mendekat, dengan memahami, dengan menyediakan ruang yang nyaman bagi mereka untuk tumbuh bersama nilai-nilai keimanan.
Biarlah mereka merasa bahwa masjid adalah rumah kedua yang menyambut mereka dengan senyuman, bukan dengan ketakutan. Biarlah mereka menemukan ilmu yang bermanfaat di sana, teman-teman yang saleh, dan arah kehidupan yang terang benderang.
Safari Subuh
Seluruh gagasan indah ini kelak akan diwujudkan dalam sebuah gerakan yang penuh keberkahan, Gerakan Safari Subuh Berjamaah Bulanan, yang digagas oleh Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia Kalimantan Timur.
Setiap bulan, para pengurus masjid, para ulama, dan para pecinta syiar Islam akan berkeliling ke masjid-masjid di Kota Samarinda, menyambung silaturahmi, mempererat persaudaraan, dan membawa pesan-pesan kebaikan ke setiap sudut negeri.
Nasrun kembali memberi pesan berharga, gerakan ini harus tetap murni sebagai gerakan moral dan dakwah yang tulus, bersih dari kepentingan-kepentingan duniawi sesaat. Jangan biarkan kebaikan yang ditabur ternoda oleh kepentingan politik atau keinginan untuk dipuji.
“Kehadiran kita di masjid-masjid lain adalah sebagai tamu yang menghormati tuan rumah, menghargai tradisi dan amaliah yang telah berjalan. Jangan sampai kehadiran kita justru dianggap sebagai gerakan untuk mengubah warna masjid,” pesannya.
Kebersamaan harus dijaga. Perbedaan cara beribadah tidak boleh menjadi alasan untuk saling menjauh. Perekatnya adalah satu iman, satu Tuhan, satu harapan surga.
Maka, mubalig yang diundang pun hendaknya adalah mereka yang meneduhkan hati, mencerahkan pikiran, dan mempersatukan langkah. Bukan yang memecah belah, bukan yang menebar kebencian, bukan yang membesar-besarkan perbedaan yang tak berarti.
Safari Subuh itu kelak tidak hanya diisi dengan salat berjamaah dan kajian yang menyejukkan jiwa, tapi juga dengan aksi nyata berupa kepedulian terhadap lingkungan, membersihkan halaman masjid, merapikan tempat ibadah.
Terutama untuk menyambung silaturahmi dengan warga sekitar, serta menanyakan kabar mereka, siapa tahu dapat terkuak ada jamaah yang sedang kesulitan. Dari salat berjamaah yang sempurna, beranjaklah kebaikan yang nyata di bumi, tempat kita berpijak.
Pusat Kehidupan Umat
Gagasan indah yang digagas Nasrun ini pun disambut baik oleh Ketua Pimpinan Daerah Dewan Masjid Indonesia Kota Samarinda, KH. Azhar Qowim.
Baginya, kegiatan yang dilakukan secara rutin dan tulus ini akan menjadi sarana yang berharga untuk memperkuat syiar agama sekaligus membangun kepedulian yang mendalam kepada seluruh jamaah.
Semua pihak bersepakat, masjid harus kembali menjadi pusat kehidupan umat, bukan sekadar bangunan yang berdiri sepi saat waktu salat usai, melainkan rumah yang selalu terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan.
Melalui hadirnya “kotak masalah” di setiap masjid, diharapkan tercipta suasana yang hangat dan penuh kasih sayang. Bahwa ketika seseorang memiliki persoalan yang tak sanggup ia pikul sendiri, ia tahu ke mana harus pergi.
Ia tahu bahwa di masjid ada hati yang siap mendengar, ada tangan yang siap membantu, ada pikiran yang siap mencari jalan keluar bersama-sama. Masjid menjadi tempat yang memeluk setiap orang tanpa memandang siapa dirinya, dari mana ia datang, dan apa yang ia miliki.
Masjid yang dibangun dengan batu dan semen, kelak akan hidup dengan kasih sayang dan kepedulian. Masjid yang tidak hanya ramai ketika azan berkumandang, tetapi juga hidup ketika warga membutuhkan tempat bertanya, tempat belajar, tempat bersandar, dan tempat menemukan jalan keluar atas segala kesulitan yang mereka hadapi.
Semoga gagasan yang indah ini kelak mewujud menjadi kenyataan yang menyejukkan hati, semoga setiap masjid benar-benar menjadi rumah yang menampung segala keluh, menebar segala kasih, dan membawa berkah bagi seluruh alam.