332 total views, 332 views today
Catatan: ASE
Suasana ruang utama Ballroom Mall IPB, Bogor, terasa begitu bernyawa saat sesi pertama Kongres Nasional Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) 2026 dimulai.
Dalam Kongres pada 27-28 Agustus ini, narasumber pertama yang naik ke atas panggung adalah Rahayu Saraswati D. Djojohadikusumo, cucu dari begawan ekonomi Indonesia, Sumitro Djojohadikusumo.
Membicarakan trah Djojohadikusumo, seolah membawa memori pada era kejayaan teknokrat Indonesia. Sumitro adalah salah satu menteri ekonomi paling lama dalam sejarah pemerintahan, menjabat hingga 5 kali di masa Presiden Soeharto tanpa pernah terkena reshuffle. Mengapa?
Karena saat itu menteri-menteri Indonesia memang diisi oleh figur “kelas dunia”. Mayoritas adalah teknokrat mumpuni bergelar profesor doktor dari perguruan tinggi ternama dunia, sekaligus penulis literatur utama ilmu pengetahuan di Indonesia.
Kepemimpinan dan kecerdasan mereka berhasil membawa Indonesia masuk dalam jajaran *Newly Industrialized Countries (NICs)* alias Macan Ekonomi Asia. Sungguh macan yang sejati, bukan macan ompong! bukan omon-omon
Saya, anda dan kita kayaknya, Rindu akan kejayaan teknokratis itu, kita semua berharap agar menteri-menteri hari ini dapat mengikuti jejak mereka di era Suharto, piawai, mumpuni, profesional, dan berkelas dunia (Ngarep..woy.!)
Mbak Saras (saya panggil mbak bukan ibu, karena usia beliau ini baru kepala 30-an tampaknya). Mbak Rahayu Saraswati menyampaikan materinya selama 20 menit bertajuk “Pengembangan Industri Berbasis Ekonomi Kerakyatan Sebagai Pilar Pertumbuhan Ekonomi Inklusif”.
Sangat piawai dan menguasai data UMKM Indonesia, beliau tampil begitu pas dengan kapasitasnya sebagai anggota DPR RI yang membawahi bidang ekonomi kerakyatan.
Satu poin penting yang dilemparkan Rahayu Saraswati sungguh menggelitik.
Bagaimana sebuah pameran atau bazaar UMKM harus mampu menciptakan repeat order dan menarik investasi, bukan sekadar ajang jualan dua hari yang sepi dampak.
Pesan tersebut mendadak terasa makin konkret ketika saya melangkah ke lorong acara yang menampilkan pameran terbatas produk UMKM ISEI.
Di sana, saya berjumpa dan berdiskusi dengan Ibu Frida Aulia, seorang alumni S1 IPB yang melanjutkan studi di Sekolah Bisnis IPB hingga akhirnya berhasil mendirikan galeri batik khas Bogor.
Di gerai beliau ini sudah ada rekan-rekan peserta ISEI Manado yang membeli batik khas Bogor ini.
”Bu Frida, sering ya ikut bazaar UMKM?” tanya saya membuka percakapan.
”Sering banget Pak, baik event nasional maupun internasional! Terakhir saya ikut bazaar tahun 2024 lalu di Washington dan New York,” jawabnya tegas.
Jawaban itu cukup membuat saya terperangah. Ekspektasi awal saya, beliau hanya berpartisipasi di event lokal atau pasar malam, namun ternyata gagasannya sudah merambah panggung internasional.
”Ada order setelah ikut bazaar, Bu?” lanjut saya penasaran.
”Oh, Allhamdulilah lumayan Pak! Selalu saja setelah bazaar, ada aja pemesanan meningkat. Sekarang saya rutin menerima pesanan tidak hanya dari Indonesia, tapi juga dari beberapa negara lain, dalam bentuk kerja sama, antara lain dengan Brunai Darussalam,” ungkap Bu Frida ramah.
Diskusi singkat di lorong pameran ini menjadi bukti nyata dari esensi materi Rahayu Saraswati.
Pameran atau bazaar sejatinya bukan sekadar wadah pemasaran sesaat, melainkan pintu masuk menuju repeat order yang berkelanjutan dan pada akhirnya membuka peluang investasi yang jauh lebih besar.
Pengalaman Frida Aulia menggambarkan secara sempurna gagasan besar tentang bagaimana UMKM Indonesia harus naik kelas.
Mulai dari pelatihan yang berdampak nyata pada inovasi produk, hingga kepemilikan NIB (Nomor Induk Berusaha) yang mampu menciptakan ekosistem pertumbuhan UMKM riil dan menyerap banyak tenaga kerja lokal.
Dari bazaar singkat dua hari ISEI, makna apa yang bisa kita petik, ternyata narasi ekonomi kerakyatan Indonesia terbukti bisa menembus batas dunia kita berharap akan semakin banyak Ibu Frida pengusaha UMKM lainnya. (ASE)