209 total views, 209 views today
Samarinda, wartaikan.com – Menjadi pemimpin bukan sekadar memberi perintah, melainkan pertama-tama mampu menjadi pendengar yang baik. Setelah mendengar, tentu akan membuat keputusan terbaik.
Itulah pesan mendalam yang disampaikan Sekretaris Daerah Kalimantan Timur Sri Wahyuni, dalam sambutan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Setda Pemprov Kaltim Farisya Yana, saat membuka rangkaian pelatihan Coaching for Leaders serta Bimbingan Teknis Koordinator dan Operator Inovasi Daerah di Aula Besar BPSDM Kaltim, Selasa (29/7/2026).
Kegiatan yang diikuti 44 peserta pelatihan kepemimpinan dan 77 peserta bimbingan teknis dari seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah ini mengajak para pejabat untuk mengubah pola pikir, pemimpin bukan lagi sekadar pengajar yang serba tahu, melainkan pendamping yang menggali potensi orang lain melalui pertanyaan strategis dan ruang dialog yang terbuka.
Farisya Yana menegaskan perbedaan mendasar antara menggurui dan melakukan pendekatan pembinaan. Ia memaparkan tiga kondisi psikologis manusia yang perlu dipahami pemimpin, area minus yang membutuhkan pemulihan, area netral yang siap belajar keterampilan dasar, hingga area plus yang sudah mampu namun perlu dioptimalkan potensinya.
“Tugas pendamping bukan memberikan nasihat begitu saja, melainkan mengajak berpikir melalui pertanyaan yang tepat. Dengan begitu, setiap orang menemukan jalan terbaiknya sendiri,” ujarnya.
Kepala BPSDM Kaltim Nina Dewi menjelaskan kegiatan ini bertujuan memperkuat ekosistem inovasi dan mempercepat transformasi birokrasi agar lebih kreatif, adaptif, dan berdaya saing.
Selama dua hari, peserta mendalami teknik pembinaan kepemimpinan bersama narasumber nasional Dr. Agung Solihin, serta mempelajari indikator inovasi dan penyusunan profil inovasi bersama narasumber dari Kemendagri, Lembaga Administrasi Negara, Balitbangda, dan BPSDM Kaltim.
Manfaat nyata langsung dirasakan peserta. Jauhar Efendi, Widyaiswara Ahli Utama, mengaku kini lebih cerdas membedakan peran sebagai pelatih, mentor, konsultan, maupun pembina.
Sementara Syahrial Hidayat, Kepala Bidang Keperawatan RS Abdoel Wahab Sjachranie yang membawahi hampir seribu perawat dan bidan, semakin yakin pendekatan mendengar dan membimbing adalah jalan mewujudkan budaya pelayanan yang tumbuh bersama.
“Perubahan organisasi tak lahir dalam sekejap, melainkan dari kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari oleh kita semua,” ujar Syahrial.
Senada, Widyaiswara Ahli Utama Sugeng Chairuddin menambahkan materi praktik yang disampaikan membuat langkah pembinaan menjadi lebih tajam dan terarah.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Provinsi Kaltim menegaskan bahwa birokrasi yang kuat tidak dibangun dengan kekuasaan semata, melainkan dengan kemampuan memahami, mendengar, dan memaksimalkan potensi setiap insan di dalamnya. (MJE)