1,242 total views, 4 views today
Catatan ASE
Samarinda, wartaikn.com – Sabtu sore, 14 Maret 2026. Jarum jam baru saja menyentuh angka 16.00 Wita, Di sebuah sudut Jalan Yos Sudarso Samarinda, kekawalan pasti tau, berdiri kokoh sebuah bangunan dengan arsitektur khas Tionghoa dengan dominasi cat merah.
Bangunan ini adalah Kelenteng. Sejak kekawalan masih usia remaja bangunan ini sudah ada, berdiri dengan anggun di Jalan Yos Sudarso,
Ini bukan sekadar bangunan tua; ia adalah saksi bisu, selembar narasi panjang yang usianya berkelindan (bertautan) dengan sejarah berdirinya Samarinda.
Kelenteng yang dikelola oleh Yayasan Dharma Bhakti ini adalah ikon. Ia adalah monumen perjuangan sekaligus simbol eksistensi warga Tionghoa yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari nafas kota ini selama puluhan tahun.
Namun, sore itu, Kelenteng ini tidak hanya bicara soal ritual atau tradisi, melainkan soal sesuatu yang jauh lebih dalam: Kemanusiaan.
Sore itu komunitas warga Tionghoa Samarinda sedang menjalankan Misi Kemanusiaan Tanpa Sekat di bawah naungan atap Kelenteng yang sarat filosofi keseimbangan, sebuah harmoni nyata tercipta.
Bekerjasama dengan Pemerintah Kota Samarinda, Yayasan Dharma Bhakti menunjukkan empati yang dalam dan atensi yang tulus. Sebanyak 9.000 paket sembako disiapkan.
Bantuan ini bukan sekadar tumpukan beras atau minyak goreng, melainkan “jembatan” kasih yang ditujukan bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan
warga dengan kategori miskin ekstrem (desil 1) yang tersebar di 59 kelurahan di Samarinda.
Momen ini terasa kian puitis karena dilakukan di ambang bulan suci Ramadhan 1447 H dan menyongsong Hari Raya Idul Fitri.
Di sini, filosofi berbagi tidak mengenal label. Kelenteng yang menjadi tempat peribadatan umat non-Muslim justru menjadi pusat distribusi kebahagiaan bagi warga yang akan menjalankan ibadah puasa.
Pembagian paket sembako ini adalah untuk mengawal ketulusan, memastikan amanah sampai ke tangan penerima.
Prosesi ini bukan sekadar seremonial. Di antara kerumunan, tampak jajaran Pemerintah Kota Samarinda serta Ketua TWAP Kota Samarinda, Bapak Syafaruddin.
Sebagai komandan tenaga ahli Wali Kota Samarinda, beliau hadir untuk mengawal langsung agar setiap paket sampai ke tangan yang berhak.
”Prinsipnya harus tepat sasaran, tepat nama, tepat alamat,” demikian arahan beliau saat itu. Sebuah komitmen untuk memastikan bahwa niat baik tidak terhenti di tengah jalan.
Kalau kita merenungkan lebih dalam bahwa sejatinya Samarinda ini adalah Etalase Peradaban Baru.
Jika ada yang bertanya di mana letak toleransi yang sesungguhnya?, maka jawabannya ada di Samarinda sore ini.
Di kota ini, sekat perbedaan agama seolah luruh oleh rasa persaudaraan sebagai sesama warga kota. Mampu merangkul yang lemah, yang berkecukupan menopang yang kekurangan.
Inilah wajah Peradaban Baru yang dicita-citakan dalam visi misi Wali Kota Samarinda Andi Harun. Menjadikan Samarinda sebagai Kota Beradab bukan lagi sekadar jargon politik, melainkan realitas yang bisa disentuh dan dirasakan.
Secara filosofis, kejadian sore ini mengajarkan kita bahwa: Agama adalah jalan menuju Tuhan, namun kemanusiaan adalah jembatan yang menyatukan kita di bumi.
Fanatisme yang sehat bukanlah yang memisahkan diri, melainkan yang diwujudkan dalam bentuk simpati dan empati sosial yang tinggi.
Dari sebuah kelenteng tua di pinggir sungai, pesan itu mengalir deras ke seluruh pelosok negeri. Bahwa keberagaman di Samarinda bukanlah kerawanan, melainkan kekayaan.
Bahwa di atas segala perbedaan, sujud dan doa, kita tetaplah satu keluarga besar bernama manusia, maka ini terlihat bahwa manusia memanusiakan manusia.
Sore itu, peradaban itu nyata adanya. (ASE)