1,264 total views, 92 views today
Samarinda, wartaikn.com — Di balik pintu Samarinda Design Hub di Graha TVRI Asri, Sempaja, tersimpan lebih dari sekadar karya seni.
Di sana, 200 lebih goresan tangan dari 20 kreator muda Samarinda berubah menjadi suara yang menggema—suara yang mempertanyakan, menyentuh hati, dan mengguncang kesadaran, saat dipamerkan.
Pameran bertajuk “Samarinda Graphic Memoir Exhibition 2026” yang berlangsung selama sembilan hari (11-19/4/2026) ini bukan sekadar pameran gambar, melainkan pengadilan visual yang menampilkan wajah kota, tanpa topeng.
Sungai Karang Mumus, Dari Nadi Kehidupan hingga Tempat Pembuangan Sampah
Lihatlah ke Sungai Karang Mumus yang membelah kota ini. Dulu, airnya mengalir bersih, menjadi sumber kehidupan bagi siapa saja yang membutuhkan.
Kini, setiap hari disuguhi pemandangan yang memilukan: pada jam-jam tertentu, aliran air itu berubah menjadi panggung parade sampah yang tak berujung.
Kantong plastik yang bercerai berai, botol-botol bekas yang mengapung, dan berbagai limbah lainnya menari-nari di atas permukaan air—seolah-olah ini adalah tontonan yang patut dibanggakan.
“Ini adalah ironi, malu kita,” ujar Ramadhan S. Pernyata, akademisi, praktisi desain, sekaligus penggagas pameran ini, dengan nada pelan namun terasa seperti irisan sembilu.
“Kalau sungai yang seharusnya menjadi kebanggaan kita malah dijadikan tempat pembuangan segala macam sampah, apakah kita masih berhak menyebut kota ini sebagai kota peradaban? Apakah kita masih berhak menyebut diri kita sebagai manusia yang beradab?”
Karya berjudul “USAHA MERAWAT SUNGAI KAMI” merupakan salah satu yang menjadi perhatian karena memang menyentuh hati. Di sana tergambar jelas dampak pembangunan.
Hulu sungai di kawasan Lempake yang dulunya rindang, kini tergerus oleh aktivitas manusia. Pepohonan yang seharusnya menjadi penahan erosi dan penyaring alami air, banyak yang ditebang habis—tanpa memikirkan konsekuensi kemudian hari.
Namun di tengah keputusasaan itu, ada harapan yang digambarkan oleh para kreator. Kita bisa melihat sosok Misman, Ketua Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM), yang tak kenal lelah memungut sampah dan menanam pohon di sepanjang tepi sungai.
Ia dan timnya berjuang seolah-olah sedang menahan longsornya harapan. Karya ini mengingatkan kita: sungai ini bukan hanya milik kita hari ini, tapi juga milik anak cucu kita nanti. Merawatnya bukanlah tugas sekelompok orang, melainkan tanggung jawab kita semua.
Karena ingatlah: air yang kita gunakan untuk minum, masak, mandi, dan mencuci setiap hari—semuanya berasal dari sungai yang sedang sekarat ini.
Sungai ini juga menjadi sumber rezeki bagi nelayan, pemancing, dan pedagang yang menggantungkan hidupnya dari aliran airnya.
Sungai ini juga menjadi tempat orang-orang berkumpul, bercengkrama, dan menikmati keindahan malam kota dari atas perahu. Jika sungai ini mati, maka matilah juga sebagian dari hidup kita.
Kampung Ketupat
Pindah ke Samarinda Seberang, kita disuguhi cerita yang tak kalah memilukan: kisah Kampung Ketupat yang dulu menjadi simbol kesederhanaan dan ketenangan, kini berubah menjadi panggung komersial yang kehilangan jiwa.
Para kreator menggambarkan dengan tajam: dinding-dinding yang dulunya terbuat dari kayu ulin—kayu yang menjadi identitas tanah ini—kini tergantikan oleh baja dan besi.
Bahkan ikon kampung yang seharusnya menjadi simbol kebanggaan, kini dibuat dari baja dingin, bukan dari kayu ulin yang hangat dan bercerita tentang sejarah.
Dalam sebuah karya yang menyayat hati, tertulis kalimat yang membuat siapa saja yang membacanya terhenti sejenak: “Kampung ini yang dulu kukenal sederhana dan tenang, kini dipenuhi warna-warni gincu dan sorotan kamera. Tempatnya masih sama, tapi rasanya berbeda. Aku kembali, tapi yang kutemukan bukan tempatnya, melainkan waktu yang pernah hidup di dalamnya, semua berubah atas nama perkembangan ekonomi dan banjir potensi wisata yang ugal-ugalan.”
Para kreator tidak hanya berhenti pada keluhan. Mereka melontarkan pertanyaan yang mengguncang hati nurani, melalui gambar dengan teks: “Ketupat-ketupat ini tetap dianyam dengan cara yang sama, namun sekarang ia harus bersaing dengan ekspektasi kamera. Apakah kita sedang melestarikan budaya, atau hanya sedang mengemas kemiskinan agar terlihat lebih manis untuk dijual?”
Ini adalah pertanyaan yang tak mudah dijawab. Di satu sisi, kita tahu bahwa tradisi ini mungkin akan mati jika tidak diubah sedikit demi sedikit agar menarik minat orang lain.
Tanpa kemasan yang menarik, mungkin ketupat-ketupat ini hanya akan menjadi kenangan yang hilang ditelan zaman. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran yang mendalam: apakah kita hanya menjual romantisme penderitaan? Apakah kita hanya membuat konten untuk media sosial, memberi tanda “suka” seolah-olah kita sudah peduli, sementara kesejahteraan pengrajin dan warga sekitar tetap tidak berubah?
Ada lagi karya yang menegaskan kekhawatiran ini: “Tembok tembok dicat mencolok, mencoba menutupi realitas baliknya. Anak-anak tumbuh di antara warna-warni cerah yang dipaksakan, sebuah usaha untuk membuat mereka lupa bahwa yang mereka butuhkan adalah kesempatan, bukan sekadar latar foto yang estetik.”
Lebih Dari Sekadar Gambar
Sorotan para kreator muda ini tidak berhenti di dua tempat itu saja. Masih ada kisah tentang Kampung Tenun yang berjuang mempertahankan tradisi, rumah-rumah di atas sungai yang menjadi bagian dari identitas kota, tempat-tempat kuliner yang menyimpan kenangan, Pesut Mahakam yang kian terancam keberadaannya, Citra Niaga dengan seluk beluknya, sawah Palaran yang tergerus pembangunan, dan masih banyak lagi.
Semua karya ini adalah bukti bahwa generasi muda Samarinda tidak hanya diam dan melihat. Mereka melihat, merasakan, dan mereka berani menyuarakan apa yang selama ini mungkin diabaikan atau pura-pura tidak tahu.
Pameran ini adalah cermin besar yang kita hadapi. Di dalamnya, kita bisa melihat diri kita sendiri: apakah kita benar-benar sedang membangun kota yang lebih baik, ataukah kita hanya sedang menutupi luka dengan riasan yang indah, tanpa pernah berusaha menyembuhkan?
Ini adalah undangan untuk semua: untuk berhenti sejenak, melihat lebih dalam, dan bertanya pada diri sendiri—apa yang sebenarnya kita wariskan untuk generasi mendatang? Sungai yang bersih dan hidup, atau sungai yang penuh sampah? Kampung yang mempertahankan jiwanya, atau kampung yang hanya menjadi latar foto?.