833 total views, 320 views today
(Menenun Kekuatan dari Pusat ke Daerah) Part 1._
_______________________
Catatan khusus DR Aji Sofyan Effendi, SE, MSI (Dosen Pasca Sarjana FEB UNMUL & Dewan Pembina ISEI Samarinda)
________________________
Samarinda, wartaikn.com – Selasa, 10 Februari 2026 Jam 09.00 pagi, bertempat di Gedung Mas Jaya ( Unmul Hub ) Kampus Gunung Kelua, Samarinda, dilaksanakan Round Table Discussion (RTD).
Sebagai pelaksana adalah Nagara Institute, sebuah lembaga kajian politik dan pemerintahan yang bermukim di Bandung, dikelola oleh Akbar Faizal Uncensored (AFU) yang biasa menampilkan wawancara dengan tokoh-tokoh penting di jajaran eksekutif maupun legislatif nasional dan daerah.
Podcastnya diikuti oleh jutaan follower, podcast beliau senantiasa menampilkan tema-tema yang sedang dihadapi oleh bangsa, negara dan daerah.
Kali ini kedatangan AFU dan rombongan membawa sebuah diskusi yang sangat relevan dan penting dalam melihat bagaimana badan usaha dengan tema “Pengelolaan BUMN Dalam Era Ekonomi Baru”.
Sebuah tema yang diprediksi akan hangat dengan berbagai macam konsep pikiran, ide, gagasan yang selama ini terpendam di daerah dalam melihat BUMN. Di acara ini AFU menjadi jembatan penghubung antara komunitas rakyat daerah dengan para narasumber yang membedah secara dalam tentang BUMN.
Saya mencoba mengulik sisi lain dari tulisan ini, bagaimana BUMN (baca : DANANTARA ) berkolaborasi dengan BUMD di daerah – daerah di Indonesia.
Secara filosofis, sebuah entitas bisnis negara bukan sekadar mesin pencetak laba, melainkan perwujudan dari *”kontrak sosial”* untuk kemakmuran bersama.
Namun, sejarah mencatat bahwa banyak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terjebak dalam labirin birokrasi yang opasitasnya tinggi. Ketika meritokrasi digantikan oleh titipan politik, maka profesionalisme kalah oleh kepentingan tim sukses, sehingga kehancuran hanyalah masalah waktu.
Lahirnya Daya Anagata Nusantara (Danantara) adalah sebuah diskontinuitas sejarah. Ia hadir sebagai respons atas performa BUMN yang selama ini kerap berada di bawah bayang-bayang efisiensi Badan Usaha Milik Swasta (BUMS).
Danantara bukan sekadar re-branding, melainkan sebuah ikhtiar untuk memutus rantai “sisi suram” masa lalu dan bertransformasi menjadi sovereign wealth fund yang lincah di kancah global.
Kita sangat paham hari ini ada potret buram yang harus diakhiri. Data menunjukkan bahwa efisiensi BUMN sering kali menjadi titik lemah. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi dalam beberapa tahun terakhir, meskipun aset BUMN secara total mencapai angka fantastis (di atas Rp 9.000 triliun), rasio Return on Equity (ROE) rata-rata sering kali tertinggal jauh dibanding sektor swasta
Di industri yang sama. Kondisi ini setali tiga uang dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Berdasarkan data Kemendagri, dari total sekitar 1.100 BUMD di seluruh Indonesia, lebih dari 60% dilaporkan dalam kondisi tidak sehat atau kurang sehat.
Banyak BUMD yang justru menjadi beban bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), alih-alih menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Penyakitnya serupa: rekrutmen direksi yang sarat kepentingan politik lokal dan minimnya akses terhadap jejaring bisnis global.
Padahal sejatinya DANANTARA bisa bersinergi seperti *Kakak-Adik: Danantara dan BUMD*
Filosofi kolaborasi ini adalah Simbiosis Mutualisme. Danantara harus diposisikan sebagai “Kakak Tertua” mentor yang membawa standar global, modal, dan jaringan internasional. Sementara BUMD adalah “Adik” yang menguasai lanskap lokal, namun butuh bimbingan teknis dan manajerial.
Kolaborasi ini tidak boleh hanya berhenti pada suntikan modal (yang sering kali menjadi “lagu klasik” kegagalan), melainkan pada transfer teknologi dan tata kelola yaitu:
– Menerapkan standar Good Corporate Governance (GCG) kelas dunia ke level daerah.
– Global Supply Chain: Membantu produk unggulan daerah menembus pasar internasional melalui jaringan Danantara.
– Meritokras Terpimpin:- Memastikan jajaran pimpinan BUMD dipilih berdasarkan kompetensi, bukan kedekatan politik.
Momentum IKN: Laboratorium Ekonomi Baru
– Kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur adalah panggung utama bagi kolaborasi ini.
Danantara tidak boleh menjadi “raksasa di menara gading” Jakarta. Dengan melibatkan BUMD di Kalimantan Timur dalam proyek-proyek strategis di IKN, Danantara secara langsung membumikan ekonomi baru di daerah.
Ada berapa perusda di Kaltim yang sekarang ini mempunyai performa bagus dalam bisnis, seperti PT. MMPKT (Migas Mandiri Pratama, Kaltim) yang bergerak di bidang bisnis migas hulu dan hilir serta penunjang, Danantara bisa menggandeng perusda ini utk mengembangkan EBT di Kaltim atau sebagai pelaku bisnis Bioenergi B-40.
kemudian ada Perusda PT. MBS (Melati Bhakti Satya) yang bergerak di bidang aneka usaha dan jasa, yang juga memiliki performa bisnis bagus. Danantara dapat mengandeng perusda ini untuk berbagai bisnis produksi barang dan jasa serta hilirisasi SDA Kaltim.
Danantara dapat melakukan kolaborasi dengan 2 perusda tersebut sebagai percontohan di tingkat nasional bahwa ternyata kerja sama dan kolaborasi tersebut bisa dan menguntungkan.
Apabila kolaborasi ini dapat dilaksanakan, maka diprediksi secara kuantitatif di Kaltim akan ada potensi pertumbuhan ekonomi naik *1,5% – 2,2%* di atas rata-rata nasional, terjadi efisiensi operasional BUMD, peningkatan margin laba bersih hingga *15 – 20%*
Melalui standarisasi Danantara, penyerapan tenaga kerja dan integrasi proyek strategis dapat menyerap ribuan tenaga kerja lokal secara profesional.
Pada akhirnya, Danantara dan BUMD akan mampu menuju ekonomi yang inklusif. Danantara adalah harapan. Namun, harapan itu akan sirna jika ia hanya menjadi replika BUMN lama dalam skala yang lebih besar.
Dengan menggandeng BUMD, berarti Danantara sedang membangun fondasi ekonomi yang inklusif.
Kolaborasi ini akan menjawab tantangan pengangguran dan kemiskinan di daerah secara riil. Rakyat di pelosok tidak boleh hanya menjadi penonton kesuksesan, mereka harus merasakan kehadiran Danantara melalui BUMD yang sehat, profesional, dan mendunia.
*Inilah saatnya Indonesia berhenti berjalan sendiri-sendiri dan mulai berlari dalam satu harmoni bisnis yang terintegrasi.*
Danantara dapat melakukan audit manajemen pada BUMD di wilayah Kaltim sebagai langkah awal kolaborasi (ASE)