Jaga Warisan Hutan Ulin, Elsa Raih Penghargaan Local Hero bersama PT Bharinto Ekatama

Elsa Wijaya (tengah) saat menerima penghargaan Local Hero. (Foto: Ist/ BEK)
Elsa Wijaya (tengah) saat menerima penghargaan Local Hero. (Foto: Ist/ BEK)

 1,246 total views,  46 views today

Jakarta, wartaikn.com – Dedikasi tanpa henti Elsa Wijaya dalam menjaga kelestarian hutan adat di wilayah Masyarakat Hukum Adat (MHA) Benuaq Telimuk, Desa Penarung, Kabupaten Kutai Barat, kembali mendapat pengakuan nasional.

Penghargaan ini diraih dalam ajang Indonesian Sustainable Development Goals Award (ISDA) 2025. Elsa Wijaya dinobatkan sebagai penerima penghargaan kategori Local Hero atas kontribusinya dalam mendukung pencapaian SDGs pilar lingkungan.

Keberhasilan ini diraih berkat kolaborasi erat dengan PT Bharinto Ekatama (BEK) yang mengusulkan Elsa sebagai figur inspiratif. Penghargaan ini menjadi pelengkap setelah sebelumnya Elsa juga menerima penghargaan Kalpataru dari Gubernur Kalimantan Timur atas perjuangan 14 tahun melindungi “kayu besi” Kalimantan.

Sebagai Ketua MHA Benuaq Telimuk, Elsa Wijaya menjaga area hutan yang kini bertahan seluas 600 hectare, setelah luasannya terus berkurang. Hutan ini bukan sekadar hamparan hijau, melainkan benteng terakhir bagi pohon ulin langka, lutung bermuka putih, banteng, hingga macan dahan. Salah satu ikon utamanya adalah pohon ulin raksasa dengan lingkaran batang 200 cm yang diperkirakan telah berumur 400 tahun.

Elsa Wijaya

“Dari dulu kami selalu mempertahankan kelestarian hutan karena kami juga mengambil manfaat non-kayu dari hutan. Namun secara kelembagaan adat dan secara serius, menjaga kelestarian hutan ini kami lakukan sejak 14 tahun lalu,” ungkap Elsa Wijaya.

Meski kerap bersitegang dengan pemburu dan penebang liar yang masuk membawa gergaji mesin, Elsa tetap bergeming. Kini, dengan dukungan pendampingan hukum dan dana program FCPF, ia telah membangun pos jaga untuk menghalau perusakan hutan demi menjaga sumber air bersih bagi masyarakatnya.

Bagi PT Bharinto Ekatama, mengangkat kisah Elsa Wijaya ke panggung ISDA 2025 adalah bagian dari strategi besar perusahaan dalam pilar lingkungan, khususnya SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan).

Community Development Head PT BEK, Kristinawati, menegaskan bahwa perlindungan hutan ulin di Penarong merupakan hal yang sangat mendesak. “Kalau kita nggak jaga hutannya, maka generasi kita selanjutnya nggak akan pernah lihat lagi yang namanya ulin itu apa, pohonnya seperti apa,” ujarnya.

Kristinawati menambahkan bahwa sosok Elsa Wijaya dipilih karena kontribusi nyata dalam menjaga stabilitas iklim dunia. “Dia the best participatory of SDGs. Berkaitan dengan SDGs bagaimana dia berkontribusi terhadap program SDGs dalam rangka menjaga perubahan iklim,” jelasnya.

Lebih jauh, Kristinawati memaparkan filosofi mendalam perusahaan terhadap pelestarian alam. “Sebenarnya kita, PT BEK, lebih berkontribusi terhadap pemenuhan karbon lewat lingkungan dan lewat penanaman pohon yang kita coba berkontribusi. Karena pohon itu sebenarnya sama dengan nyawa manusia. Jadi ketika kita memotong pohon berarti kita juga sedang menghilangkan salah satu misalnya sekelompok nyawa manusia,” tegas Kristinawati.

PT BEK berkomitmen agar pencapaian di ISDA 2025 ini menjadi titik awal peningkatan program yang lebih terkonsep. Perusahaan berencana mengembangkan Hutan Ulin Penarong sebagai pusat edukasi bagi anak-anak dan wisatawan agar nilai-nilai sejarah dan kisah di balik hutan tersebut tetap lestari.

“Langkah selanjutnya, kalau dari perusahaan sendiri kita coba untuk berkolaborasi ya dengan pengelola, tentunya pengelola yang dalam hal ini memang kita lebih ke Pak Elsa Wijaya. Bagaimana kita akan buat program yang nantinya untuk hutan ulin ini akan jadi tempat edukasi,” tutup Kristinawati.

Selain edukasi, PT BEK juga akan memberikan pelatihan-pelatihan bagi kelompok masyarakat adat setempat untuk memperkuat kemandirian mereka dalam mengelola potensi hutan tanpa merusak ekologinya. Sinergi ini diharapkan menjadi model percontohan bagi wilayah lain dalam menjaga oksigen dunia dan warisan alam Indonesia.

 

wartaikn.com @ 2023